Technologue.id, Jakarta – Sebuah kabar mengejutkan datang dari markas Uber. Travis Kalanick, sang CEO, mengatakan pada pegawainya bahwa ia keluar dari dewan penasehat ekonomi bentukan Presiden Donald Trump, melansir TheVerge (02/02/17). Seorang juru bicara Uber juga telah mengonfirmasikan hal ini.

“Saya memberi tahukan kepada presiden langsung bahwa saya tidak akan berpartisipasi lagi di dewan tersebut,” jelas Kalanick.

Menurut pria 40 tahun itu, keputusannya untuk keluar ini bermula dari kesalahpahaman masyarakat terhadap dirinya dan Trump. “Saat saya bergabung dengan dewan tersebut, itu bukan berarti saya mendukung presiden atau agendanya. Sayangnya, masyarakat menafsirkannya begitu.”

Selain masalah itu, keputusan Kalanick juga sedikit banyak dipengaruhi oleh aksi protes warga Amerika Serikat. Di Twitter, sempat bertebaran hashtag #DeleteUber sebagai balasan bahwa sikap Uber tak segamblang Google, Facebook, Microsoft, hingga Apple yang menentang aturan imigrasi baru dari Trump.

Salah satu dampaknya, banyak orang yang beralih ke layanan Lyft, kompetitor utama Uber di AS. Terbukti dari jumlah unduhannya di iOS yang melebihi Uber untuk pertama kalinya di akhir Januari kemarin.

Pengunduran diri Kalanick ini ternyata disambut baik oleh mitra Uber dan pengacara Muslim. “Terima kasih pada ribuan aktivis yang telah melakukan protes dan menyalurkan aspirasinya, Kalanick dan Uber telah sadar dengan realitas ini,” kata Farhan Khera, executive director Muslim Advocates.

 

Baca juga:

Uber Dikeroyok Microsoft, Google, dan Facebook, Ada Apa?

Cek Estimasi Waktu dan Tarif Gojek, Grab, dan Uber Sekarang Bisa Lewat Google Maps

Google Maps Kini Bisa Tampilkan Kendaraan Uber Secara Realtime