HomeHeadline5 Miss Independent di Dunia Sains

5 Miss Independent di Dunia Sains

Technologue.id, Jakarta – Saat ini, istilah Miss Independent banyak muncul di berbagai platform media sosial. Bukan hanya mereka yang berkarir di perusahaan besar, Miss Independent juga merujuk pada seluruh perempuan yang mandiri, kuat, dan berdaya.

Dalam dunia sains, banyak tokoh perempuan hebat yang layak diberi julukan Miss Independent. Kelima orang tersebut membuktikan bahwa perempuan memiliki kemampuan yang setara dengan laki-laki, hingga mampu memberikan banyak kontribusi berharga bagi dunia.

Siapa saja Miss Independent sains tersebut? Yuk simak lima Miss Independent dalam dunia sains yang telah dirangkum oleh platform edukasi berbasis teknologi, Zenius.

Marie Curie

Marie Curie merupakah perempuan pertama yang berhasil meraih Penghargaan Nobel untuk dua bidang ilmu yang berbeda, yaitu Kimia dan Fisika. Marie telah dikenal sebagai sosok yang cerdas dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi sejak masih duduk di bangku sekolah. Walau saat itu pendidikan bagi perempuan masih dibatasi, Marie bertekad kuat untuk melanjutkan pendidikannya di kelas informal bawah tanah.

Ilmuwan kelahiran Polandia ini berhasil menemukan radioaktivitas dan meraih penghargaan Nobel bersama suaminya, Pierre, dan Becquerel yang telah meneliti hal yang sama sebelumnya. Eksperimen Marie dan Pierre juga menghasilkan penemuan senyawa polonium dan radium. Kiprahnya dalam dunia sains menjadikan Marie populer sebagai ilmuwan perempuan paling produktif. Dalam biografinya, penyebab meninggalnya Marie adalah kanker leukimia yang disebabkan oleh paparan radioaktif dari radium yang telah lama ia teliti.

Rosalind Franklin

Rosalind Elsie Franklin adalah ilmuwan berkebangsaan Inggris yang mengungkap rahasia struktur molekuler DNA dan RNA. Walau ia tidak pernah menerima Penghargaan Nobel, namun kontribusinya dalam bidang biologi tidak bisa dianggap remeh. Hasil penemuannya dikatakan sebagai salah satu pencapaian paling penting di abad ke-20.

Sejak umurnya 15 tahun, Rosalind Franklin memiliki cita-cita yang tidak lazim bagi perempuan saat itu, yaitu menjadi ilmuwan. Ia memang dikenal unggul dalam hal akademik, seringkali menjadi juara kelas, dan cerdas dalam berpikir. Kecerdasannya membuat Franklin mendapat beasiswa di Universitas Cambridge dan berhasil menyelesaikan studi post doktoral (PhD) di usia 26 tahun.

Hypatia

Para pemikir klasik didominasi oleh laki-laki, seperti Phytagoras, Socrates, Aristoteles, Plato, hingga Archimedes. Namun, di tengah keterbatasan perempuan saat itu, terdapat perempuan pemikir hebat bernama Hypatia.

Hypatia, perempuan pertama yang menjadi ahli matematika, juga dikenal sebagai pendidik dan filsuf yang sangat dihormati. Bahkan, Hypatia menguasai pengetahuan lengkap soal ilmu astronomi, sastra, hingga seni. Ia mendedikasikan dirinya untuk mengajarkan ilmu pengetahuan di Museum of Alexandria selama 20 tahun. Pada saat itu, banyak orang yang memohon untuk bisa mengikuti kelasnya. Ia juga melahirkan banyak karya tulis, seperti buku tentang geometri, aljabar, serta astronomi.

Dorothy Hodgkin

Dorothy Crowfoot Hodgkin menjadi salah satu orang pertama yang meneliti struktur senyawa organik dengan menggunakan kristalogi sinar-X. Ia meraih gelar sarjana di Universitas Oxford lalu melanjutkan studinya di Universitas Cambridge, di mana ia memperoleh gelar PhD dalam investigasi kristalografi kristal steroid.

Ilmuwan kimia berkebangsaan Inggris ini dikenal sebagai penemu kristalografi protein. Dengan bantuan sinar-X, ia berhasil menguraikan struktur vitamin B12 serta berbagai molekul kompleks lain, seperti insulin dan penisilin. Penemuannya dalam penentuan struktur vitamin B12 membuatnya dianugerahi Penghargaan Nobel Kimia pada tahun 1964. Dorothy juga tercatat sebagai perempuan pertama yang memperoleh Medali Copley, perempuan kedua yang memperoleh Order of Merit pada tahun 1965, dan masih banyak penghargaan bergengsi lainnya.

Rita Levi-Montalcini

Ia adalah profesor berkebangsaan Italia yang lahir pada tahun 1908. Sejak usianya 20 tahun, ia bertekad untuk mengejar cita-citanya dalam bidang riset medis. Rita Levi-Montalcini lulus dengan predikat summa cum laude dalam bidang Kedokteran dan Bedah, kemudian melanjutkan studinya di bidang neurologi dan psikiatri.

Selama hidupnya, ia kerap terlibat sebagai penulis dalam puluhan riset studi serta menerima banyak penghargaan. Ia berhasil menemukan faktor pertumbuhan saraf sehingga ia memperoleh Penghargaan Nobel di bidang Fisiologi atau Kedokteran bersama rekannya, Stanley Cohen. Penemuan tersebut memperkaya ilmu pengetahuan khususnya dalam persoalan kedokteran, seperti penyembuhan luka, pertumbuhan bentuk yang tidak sempurna, sampai penyakit tumor.

Itulah deretan perempuan hebat yang telah memberikan kontribusi besar bagi ilmu pengetahuan. Ingat, dalam bidang apapun, kita memiliki kesempatan untuk selalu berusaha berperan aktif dan menciptakan hal-hal positif. Dengan tekad serta usaha, yakinlah bahwa kita bisa meraih kesuksesan.

- Advertisement -

Berita Lainnya

See More