Technologue.id, Jakarta - Perkembangan kecerdasan buatan (AI) memasuki babak baru. Jika sebelumnya AI hanya berperan sebagai asisten yang menunggu perintah, kini teknologi tersebut berevolusi menjadi agen otonom atau agentic AI yang mampu bertindak secara mandiri dalam menyelesaikan tugas-tugas kompleks di lingkungan bisnis.

Konsep ini memungkinkan AI tidak sekadar menjawab pertanyaan, tetapi juga merencanakan, mengambil keputusan, hingga mengeksekusi alur kerja berdasarkan standar operasional perusahaan (SOP) yang telah diintegrasikan ke dalam sistem. Dengan demikian, AI dapat secara proaktif menyelesaikan masalah tanpa menunggu instruksi manusia.

Salah satu perusahaan yang mendorong adopsi teknologi ini adalah Salesforce melalui solusi agent force yang kini telah mendukung bahasa Indonesia. Langkah ini diperkuat dengan kehadiran pusat data lokal bernama Hyperforce Indonesia, yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan regulasi, keamanan data, serta kedaulatan digital di dalam negeri.

Sejumlah perusahaan besar di Indonesia seperti Erajaya, Simas Mobility, dan Indosat Ooredoo Hutchison telah mulai mengadopsi solusi berbasis Hyperforce tersebut dalam operasional mereka.

Dalam survei yang melibatkan 1.000 profesional atau knowledge worker di Indonesia, Salesforce menemukan bahwa tingkat penerimaan terhadap AI cukup tinggi. Sebanyak 68% responden menyatakan bahwa penggunaan AI dalam kehidupan pribadi meningkatkan kepercayaan mereka untuk menggunakannya dalam pekerjaan.

Selain itu, 70% responden mengaku lebih percaya diri dalam bekerja dengan bantuan AI. Menariknya, hanya 3% yang tidak memiliki rencana untuk menggunakan AI sama sekali.

Namun, kesiapan individu ini belum sepenuhnya diimbangi oleh organisasi. Hanya 33% pekerja yang mengaku mendapatkan pelatihan AI dari perusahaan mereka. Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan antara antusiasme tenaga kerja dan kesiapan institusi dalam mengadopsi teknologi tersebut.

Andreas Diantoro, President Director, Salesforce Indonesia menjelaskan bahwa adopsi AI di tingkat perusahaan membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan membuat prompt. Dibutuhkan integrasi data internal, konteks bisnis, serta sistem pengawasan yang ketat untuk memastikan hasil yang akurat dan aman.

"Tanpa dukungan tersebut, muncul risiko shadow AI, yaitu penggunaan alat AI tidak resmi oleh karyawan di luar pengawasan perusahaan. Kondisi ini dapat menimbulkan celah keamanan, terutama terkait data sensitif. Karena itu, perusahaan dituntut untuk membangun kerangka kerja yang jelas, menyediakan teknologi AI kelas enterprise, serta memastikan visibilitas penuh terhadap penggunaan AI di lingkungan kerja," ujar Andreas, dalam acara Agentforce World Tour Jakarta 2026, Kamis (23/4/2026).

Selain aspek teknologi, transformasi sumber daya manusia menjadi faktor krusial. Perusahaan perlu berinvestasi dalam pelatihan, pengembangan keterampilan, serta adaptasi budaya kerja agar mampu memanfaatkan potensi AI secara maksimal.

Konsep AI fluency atau kefasihan AI menjadi kunci utama, yaitu kemampuan pekerja untuk berkolaborasi secara efektif dengan AI guna menghasilkan dampak bisnis yang signifikan.

Salesforce mengidentifikasi empat pilar utama dalam membangun AI fluency, yaitu Redesign (Menyederhanakan proses kerja agar AI dapat mendukung manusia secara optimal), Reskill (Meningkatkan keterampilan karyawan dalam mengelola dan mengarahkan AI), Redeploy (Mengalihkan tenaga kerja ke tugas bernilai lebih tinggi), dan Rebalance (Menyeimbangkan peran manusia dan AI sesuai keunggulan masing-masing).

Agentic AI diyakini mampu meningkatkan produktivitas, kreativitas, dan kapasitas kerja secara signifikan. Namun, keberhasilan implementasinya sangat bergantung pada bagaimana perusahaan menempatkan manusia sebagai pusat dari transformasi tersebut.