Jakarta, Technologue.id — Advanced Micro Devices (AMD) resmi mengumumkan kesepakatan definitif untuk mengakuisisi World Labs. World Labs merupakan laboratorium riset dan pengembang model AI yang dipimpin oleh pionir kecerdasan buatan, Dr. Fei-Fei Li. Pengumuman ini disampaikan langsung oleh AMD yang berbasis di Santa Clara, California.

Langkah ini disebut sebagai upaya strategis AMD untuk memperkuat posisinya di industri kecerdasan buatan. Perusahaan akan mendapatkan tim peneliti kelas dunia serta para ahli model AI melalui transaksi tersebut. AMD menilai kombinasi ini akan mempercepat pengembangan perangkat keras, perangkat lunak, dan sistem AI yang sesuai kebutuhan model masa depan.

Seiring AI yang terus berkembang ke ranah penalaran, robotika, simulasi, hingga physical AI, tuntutan terhadap infrastruktur komputasi pun semakin beragam. Keahlian World Labs dalam mengembangkan model canggih dinilai akan memberi AMD pemahaman lebih dalam soal evolusi beban kerja. Wawasan itu bakal membantu perusahaan merancang peta jalan teknologi mereka ke depan.

“Membangun platform komputasi untuk generasi AI berikutnya membutuhkan pemahaman mendalam tentang bagaimana model berkembang,” ujar Dr. Lisa Su, chair and CEO AMD. “Fei-Fei dan tim World Labs membawa kepemimpinan riset luar biasa serta keahlian model. Bersama-sama, kami bisa memakai wawasan itu untuk mengembangkan perangkat keras, perangkat lunak, dan sistem yang akan menggerakkan AI generasi berikutnya dan memperkuat ekosistem AI terbuka,” tambahnya.

Akuisisi ini juga memperkuat strategi AMD dalam menghadirkan infrastruktur AI bagi ekosistem terbuka. Langkah tersebut menjadi sinyal bahwa AMD serius bersaing di peta persaingan AI global yang kian panas. Persaingan ini bahkan sempat memunculkan Perpecahan Sengit Elite soal arah masa depan teknologi tersebut.

Dari sisi World Labs, bergabung dengan AMD diyakini membuka akses ke sumber daya dan kedalaman rekayasa yang lebih besar. Hal itu diharapkan mempercepat riset mereka sekaligus membantu mendefinisikan infrastruktur yang dibutuhkan era AI berikutnya. World Labs sendiri berkantor pusat di San Francisco, Amerika Serikat.

Perusahaan ini dikenal mengembangkan model spatial intelligence yang mampu menghasilkan, merekonstruksi, dan menyimulasikan lingkungan 3D interaktif. Model tersebut bekerja dari input teks, gambar, hingga video. World Labs juga mengembangkan teknologi untuk pembelajaran dan simulasi robotik.

“Memajukan teknologi AI generasi berikutnya membutuhkan kolaborasi erat lintas riset model, sistem, dan komputasi,” kata Dr. Fei-Fei Li, co-founder and CEO World Labs. “Bergabung dengan AMD akan memberi tim kami sumber daya dan kedalaman rekayasa untuk mempercepat riset kami dan membantu mendefinisikan infrastruktur yang dibutuhkan bagi era baru AI,” ujarnya.

Setelah transaksi rampung, tim World Labs akan tetap fokus memajukan riset model AI. Dr. Fei-Fei Li sendiri akan bergabung dengan AMD sebagai executive vice president and chief scientist. Posisi itu akan dilaporkannya langsung kepada Dr. Lisa Su.

Transaksi ini seluruhnya berbentuk saham dengan nilai sekitar US$8,2 miliar atau setara puluhan triliun rupiah. Penyelesaian akuisisi diperkirakan terjadi pada akhir 2026. Namun, proses tersebut masih menunggu persetujuan regulasi dan sejumlah kondisi penutupan yang lazim.

Langkah AMD ini menambah panjang daftar manuver perusahaan teknologi besar dalam memperebutkan posisi di era AI. Perebutan itu tak hanya menyangkut perangkat keras, tetapi juga model, data, dan talenta riset. Sejumlah pihak bahkan menilai arah regulasi akan ikut menentukan siapa yang unggul, seperti tergambar dalam Perebutan Masa Depan regulasi AI di Amerika Serikat.

Bagi AMD, memiliki tim riset model sendiri bisa menjadi pembeda di pasar yang didominasi pemain lain. Dengan memahami kebutuhan model secara langsung, AMD berpeluang merancang akselerator dan sistem yang lebih tepat sasaran. Pendekatan ini sejalan dengan tren industri yang kian mendorong integrasi antara chip dan perangkat lunak.

Namun, transaksi sebesar ini tak lepas dari risiko yang lazim menyertai akuisisi besar. AMD dalam pernyataannya mengingatkan adanya berbagai faktor yang bisa memengaruhi hasil akhir. Faktor itu mencakup kondisi pasar semikonduktor yang siklikal, regulasi ekspor, hingga ketidakpastian ekonomi dan geopolitik.

Perusahaan juga menyoroti pentingnya integrasi bisnis yang diakuisisi serta kemampuan mempertahankan karyawan kunci. Risiko lain meliputi fluktuasi nilai tukar, gangguan rantai pasok, dan potensi masalah keamanan siber. Semua itu disebut bisa membuat hasil aktual berbeda dari ekspektasi saat ini.

Kendati demikian, arah besar langkah AMD sudah jelas: membangun fondasi komputasi untuk generasi AI berikutnya. Dengan menggandeng World Labs dan Fei-Fei Li, perusahaan ingin memastikan infrastrukturnya selaras dengan kebutuhan model yang terus berevolusi. Publik pun menanti bagaimana akuisisi ini berdampak pada lanskap AI global dalam beberapa tahun ke depan.