Technologue.id, Jakarta – Ledakan populasi hewan peliharaan dan hewan terlantar di kawasan Asia merupakan permasalahan serius yang perlu ditangani. Salah satu solusi untuk mengatasi hal tersebut adalah melalui jalur adopsi hewan. Dalam mempermudah prosedur adopsi, telah hadir aplikasi mobile namanya aplikasi “Adopsi”

Aplikasi Adopsi hadir sebagai solusi untuk memudahkan proses adopsi menjadi menjadi semakin mudah namun tetap aman secara gratis. Aplikasi buatan startup asli Indonesia itu sangat memahami bahwa diperlukan waktu, energi, dana, dan upaya yang tidak sedikit bagi lembaga swadaya, pusat adopsi hewan, shelter, maupun gerakan peduli hewan di luar sana untuk melaksanakan program adopsi hewan.

Pada aplikasi besutan Oninyon Software Solution ini, pengguna dapat memiliki peran ganda yakni sebagai pengadopsi hewan (adopter) atau sebagai pemilik data hewan yang akan diadopsi (adoptee). Selain itu, juga terdapat fitur-fitur lain seperti pengumuman program sterilisasi terdekat, dan berita hewan hilang disekitar Anda. Fitur-fitur ini tentu dapat memudahkan pengguna dapat bertukar informasi secara realtime.

Sejak awal peluncuran Adopsi pada September 2016 di Google Play, sebanyak lebih dari 15.000 user telah mendaftar dan mengunduh aplikasi dan telah memberikan masukan yang berarti bagi mereka.

Setelah tiga tahun banyak pencapaian yang berhasil diraih diantaranya sebanyak 1200 hewan telah terdaftar, 1800 form adopsi telah dikirimkan, dan lebih dari 300 hewan berhasil menemukan keluarga barunya melalui aplikasi ini.

Adopsi juga terpilih sebagai 5 startup paling menarik di perhelatan Tech-in-Asia 2016. Selain itu, startup ini juga mendapatkan penghargaan pada event LPDP dari Kementerian Keuangan Republik Indonesia sebagai juara ke-3 kompetisi ide pitching dan juara favorit pilihan publik.

“Dengan pencapaian Adopsi dalam misi sosial ini, kami telah membuktikan bahwa aplikasi Adopsi dapat digunakan sebagai solusi guna mengatasi ledakan populasi hewan terlantar melalui program adopsi anjing dan kucing tidak hanya di Indonesia, namun juga di Asia dan bahkan negara lain di luar Asia yang mempunyai potensi permasalahan serupa,” demikian keterangan resmi dari startup ini kepada Technologue.id

Di Indonesia sendiri, baru saja diberitakan bahwa di ibu kota Jakarta mengalami ledakan populasi kucing hingga 30.000 ekor. Sedangkan di Pulau Bali harus menampung setidaknya 500.000 ekor anjing. Jumlah tersebut tidak sebanding dengan luas area serta kemampuan penduduk untuk memelihara hewan tersebut.

Sampai saat ini ledakan populasi merupakan salah satu penyebab kekerasan pada hewan. Hal ini didasarkan pada pemahaman masyarakat yang masih percaya bahwa membunuh hewan terlantar merupakan cara paling singkat untuk mengurangi jumlah hewan tersebut secara signifikan.

Aplikasi Adopsi dapat digunakan tidak hanya bagi individu. Lebih dari itu, lembaga swadaya, pusat adopsi hewan, shelter, gerakan peduli hewan dan berbagai pihak yang memiliki visi yang sama dapat menggunakannya secara gratis guna memudahkan proses pencarian adopter yang bertanggung jawab.

“Namun untuk mewujudkan misi kami sebagai aplikasi yang menyelamatkan sebanyak mungkin hewan terlantar tidak hanya di Indonesia, bahkan dunia. Kami perlu membangun kembali aplikasi ADOPSI sehingga dapat dipergunakan dalam skala yang lebih besar (worldwide multiplatform). Oleh karena itu, aplikasi ADOPSI meluncurkan program kampanye penggalangan dana pada laman Kitabisa.com pada tanggal 2 Juli 2019,” imbuhnya.