Baca juga:
Siapa Pencuri 30 Juta Data User Facebook? Ini Hasil Temuan Mereka
Dalam penjelasannya ke redaksi (23/10/2018), Kaspersky menjelaskan kalau Turla tidak menarget konsumen biasa, melainkan yang berkaitan secara politis dan urusan militer, terutama di Asia Tengah. Variannya telah dimodifikasi sebagai alat spionase siber dan diprediksi masih akan berlanjut serangan berikut modifikasinya di tahun depan.Baca juga:
Pernah Diretas, Situs untuk Selingkuh Masih Ramai Pengguna
“Turla adalah salah satu pelaku kejahatan siber tertua, terus bertahan dan secara berkelanjutan melakukan inovasi ancaman dan pendekatan baru. Penelitian kami khususnya terhadap kelompok ini selama 2018 menunjukkan bahwa Turla terus berkembang dan bereksperimen,” kata Kurt Baumgartner, peneliti keamanan utama di tim GReAT Kaspersky Lab.Baca juga:
"Namun, perlu dicatat bahwa jika dibandingkan dengan pelaku ancaman berbahasa Rusia lain, seperti CozyDuke (APT29) dan Sofacy yang menargetkan organisasi di barat, seperti kasus dugaan peretasan Democratic National Committee pada tahun 2016, Turla justru diam-diam mengerahkan operasinya ke arah timur, di mana aktivitas bahkan teknik distribusi mereka baru-baru ini mulai mirip dengan subset Sofiz's Zebrocy. Penelitian kami menunjukkan pengembangan dan penerapan kode Turla terus berlanjut, sehingga organisasi yang berpotensial dijadikan sebagai target perlu bersiap."