Berlimpah Pengguna, Telegram Akan Monetisasi Layanan

- Advertisement -

Technologue.id, Jakarta – Telegram mengumumkan rencana monetisasi mulai tahun 2021. Mereka akan memonetisasi platform setelah perusahaan mencapai angka 500 juta pengguna aktif.

Mengutip GSM Arena (23/12/2020), Co-founder Telegram, Pavel Durov, menyampaikan rencana monetisasi yang terdiri dari dua bagian untuk layanannya. Bagian pertama rencana ini akan diperkenalkan untuk memperkenalkan fitur premium untuk bisnis atau pengguna dengan pengaruh besar.

Sedangkan seluruh fitur yang telah tersedia akan tetap dapat dimanfaatkan secara gratis. Selain itu, layanan ini akan memperkenalkan sejumlah fitur baru yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan dari basis pengguna yang lebih menuntut.

Baca Juga:
Latah, Telegram Ikut Bikin Fitur Panggilan Video Grup

Lebih lanjut, skema kedua akan memperkenalkan iklan di saluran publik, termasuk grup chat terbuka dalam ukuran besar yang dijalankan oleh individual atau grup masyarakat dan mengizinkan orang lain untuk bergabung.

Iklan tidak akan muncul di chat. Iklan justru akan masuk ke Channel Telegram mulai 2021. Bagi yang tidak tahu Channel, ini semacam feed mirip dengan Twitter.

Telegram akan menampilkan iklan di grup ini menggunakan jaringan iklan miliknya, akan menghilangkan iklan yang ditempatkan secara manual oleh pemilik grup dengan mengirimkannya sebagai unggahan. Iklan akan diintegrasikan di dalam aplikasi dan dengan antarmuka lebih baik, alih-alih menyamar sebagai unggahan.

Baca Juga:
Asik, Sekarang Bisa Video Call di Telegram

Sedangkan untuk percakapan pribadi dan grup chat pribadi, percakapan tersebut tidak akan terganggu oleh iklan. Dalam unggahannya, Durov juga meyakinkan pengguna bahwa semua fitur yang saat ini gratis tetap bisa dinikmati tanpa dipungut biaya.

“Semua fitur yang saat ini gratis tetap gratis. Kami akan menambahkan beberapa fitur baru untuk tim bisnis dan power user. Beberapa fitur ini akan membutuhkan lebih banyak sumber daya dan akan dibayar oleh pengguna premium. Pengguna biasa akan bisa tetap menikmati Telegram gratis, selamanya,” katanya.

Langkah terkait monetisasi yang diambil Telegram ini akan membantu perusahaan tetap berkembang serta menghindari peluang untuk menjualnya demi mendapatkan keuntungan. Durov menjadikan WhatsApp sebagai contoh bahwa kondisi akan menjadi buruk saat pemilik platform memprioritaskan keuntungan di atas privasi pengguna.

- Advertisement -

Latest News

Merger Gojek-Tokopedia, Pengamat: Ini Game Changer di Industri Digital

Technologue.id, Jakarta - Pengamat Telekomunikasi yang juga Direktur Eksekutif ICT Institute, Heru Sutadi, mengatakan bahwa aksi merger antara Gojek dan Tokopedia merupakan...

Trending di Twitter, Apa sih “WA GB”?

Technologue.id, Jakarta - Media sosial Twitter diramaikan dengan topik "WA GB". Hingga berita ini dimuat, Selasa (18/5/2021) topik tersebut sudah dicuitkan lebih...

Langganan Twitter, Bayar Rp42 Ribu per Bulan?

Technologue.id, Jakarta - Biaya langganan Twitter premium atau yang disebut Twitter Blue mulai terungkap. Peneliti aplikasi Jane Manchun Wong...

Susunan Petinggi GoTo, Perkawinan Gojek – Tokopedia

Technologue.id, Jakarta - Penggabungan usaha atau merger antara Gojek dengan Tokopedia melahirkan susunan manajemen perusahaan. Dalam perusahaan baru ini,...

Cara Migrasi Perpesanan WhatsApp ke Telegram

Technologue.id, Jakarta - Telegram telah meluncurkan fitur baru untuk membantu orang memindahkan riwayat obrolan mereka dari aplikasi lain termasuk WhatsApp.

Related Stories