Home Headline Bos Softbank Desak Grab Segera Merger dengan Gojek

Bos Softbank Desak Grab Segera Merger dengan Gojek

Grab Superapp (Source: Vulcanpost)

Technologue.id, Jakarta – Isu merger antara Gojek dan Grab kembali menguat. Bergulirnya isu liar ini didorong oleh desakan CEO SoftBank Group, Masayoshi Son, kepada bos Grab.

“Masayoshi Son dari SoftBank Group memberi tekanan pada salah satu pendiri Grab Holdings, Anthony Tan, untuk melakukan gencatan senjata dengan musuh bebuyutan Gojek,” lapor Bloomberg, mengutip orang-orang yang mengetahui masalah tersebut.

Baca Juga:
Grab Dorong Optimalisasi Penyaluran Kredit Usaha Rakyat Lewat Platform Digital

Keinginan merger diduga kuat akibat kondisi SoftBank sebagai pemegang saham mayoritas Grab yang sedang tertekan. Laju bisnis perusahaan investasi milik Softbank mengalami banyak tekanan di masa pandemi Covid-19.

Apalagi hampir sebagian besar investasi SoftBank berada di sektor jasa transportasi dan logistik yang terkena imbas langsung Covid-19.

Diskusi antara Grab dan Gojek telah dimulai pada September tahun ini, dengan pemegang saham seperti SoftBank mendorong kedua perusahaan untuk mencapai kesepakatan.

Namun masih belum jelas bagaimana kesepakatan seperti itu bisa terjadi, apakah kedua entitas akan bergabung sepenuhnya atau apakah Grab hanya akan mengakuisisi operasi Gojek di Indonesia.

Menurut laporan itu, kepala eksekutif Grab lebih memilih kesepakatan yang lebih sempit, yang akan memungkinkan perusahaan yang berbasis di Singapura itu menjalankan bisnis Gojek di Indonesia sebagai anak perusahaan Grab. Kesepakatan itu juga akan membuat Tan mengurangi jumlah saham pribadinya.

Baca Juga:
Gojek Bekali Fitur Lapor Order Fiktif untuk Driver

Pembicaraan merger sesungguhnya telah dibicarakan oleh Grab dan Gojek pada enam bulan lalu. Namun rencana tersebut tak terealisasi karena pemegang saham tidak memberi restu.

Kini, kondisi telah berubah. Pasalnya, pandemi Covid-19 telah menghantam bisnis jasa transportasi berbasis aplikasi. Di Indonesia, misalnya, sudah diberlakukan pembatasan terhadap layanan transportasi berbasis aplikasi seperti pembatasan jumlah penumpang atau bahkan larangan mengangkut penumpang selama pandemi.

Hal ini yang kemudian, menurut Financial Times, membuat nilai kedua platform tersebut mengalami penurunan secara substansial di pasar sekunder dengan saham diperdagangkan secara informal.