Jakarta – Di tengah kesibukan sehari-hari, memiliki lebih banyak perangkat di rumah belum tentu membuat semuanya terasa lebih mudah. Mengurus rumah kini tidak lagi hanya soal menyelesaikan pekerjaan fisik, melainkan juga beban mental dari banyaknya keputusan kecil yang harus diambil setiap hari.

Mulai dari menentukan menu makan, mencuci pakaian, mengatur jadwal keluarga, hingga memastikan setiap aktivitas berjalan sesuai rencana. Tanpa disadari, keputusan-keputusan kecil itu terus menghabiskan waktu, perhatian, dan tenaga setiap hari.

Karena itu, efisiensi kini tidak lagi sekadar soal menghemat biaya atau energi. Efisiensi juga berarti membantu mengurangi beban berpikir agar masyarakat memiliki lebih banyak waktu untuk keluarga maupun dirinya sendiri.

Perubahan cara masyarakat memaknai kemudahan dalam mengelola rumah tangga juga dirasakan Chef Bryan, jebolan MasterChef Indonesia Season 8. Menurutnya, teknologi yang benar-benar membantu bukanlah teknologi dengan fitur paling banyak, melainkan teknologi yang mampu menghilangkan langkah-langkah yang tidak perlu, terutama di dapur.

"Bagi saya, teknologi menjadi benar-benar bernilai ketika mampu menghilangkan langkah-langkah yang sebenarnya tidak perlu. Pada oven Bosch, misalnya, saya tidak perlu terus-menerus menebak suhu atau kondisi masakan karena sistemnya dapat menyesuaikan proses memasak secara otomatis. Hasilnya lebih konsisten, sementara saya bisa lebih fokus menikmati proses memasak itu sendiri," ujar Chef Bryan.

Pandangan tersebut bukan sekadar pengalaman pribadi. Survei State of Motherhood 2026 yang dilakukan Talker Research terhadap 2.000 ibu menunjukkan bahwa tantangan terbesar di rumah saat ini bukan lagi pekerjaan fisik, melainkan beban mengatur dan mengoordinasikan berbagai aktivitas.

Sebanyak 53 persen responden mengaku bertanggung jawab mengatur jadwal keluarga. Sementara 49 persen harus terus mengingatkan anggota keluarga mengenai berbagai tugas, dan 41 persen perlu berulang kali memberikan instruksi agar aktivitas sehari-hari berjalan sesuai rencana.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat kini semakin menghargai teknologi yang mampu mengurangi beban berpikir. Perubahan kebutuhan konsumen inilah yang menjadi titik awal bagi Bosch dalam mengembangkan inovasi.

"Kami selalu memulai dari perspektif konsumen. Saat ini semakin banyak keluarga dengan kedua orang tua yang bekerja. Mereka ingin tetap menyajikan makanan yang lebih sehat untuk keluarga, tetapi membutuhkan solusi yang selaras dengan gaya hidup yang semakin dinamis. Karena itu, tujuan kami bukan sekadar menghadirkan perangkat rumah tangga, melainkan membuat proses memasak menjadi lebih mudah, lebih sehat, dan lebih menyenangkan," jelas CEO Bosch Home Appliances Indonesia, Anil Narula.

Berangkat dari kebutuhan tersebut, Bosch Home Appliances menghadirkan berbagai inovasi yang dirancang untuk membantu menyederhanakan aktivitas rumah tangga. Pada Bosch Oven Series 8, misalnya, teknologi AI dipadukan dengan fitur Steam Function Plus, Sous-vide, dan Air Fry Function.

Teknologi ini menghasilkan proses memasak yang lebih presisi sekaligus membantu menjaga kualitas nutrisi makanan. Dengan kapasitas yang lebih besar, seluruh hidangan keluarga juga dapat dimasak dalam satu proses sehingga lebih efisien.

Bosch juga melengkapi oven dengan ekosistem Home Connect yang memungkinkan pengguna mengirim resep langsung ke oven. Pengguna juga dapat memperoleh panduan memasak langkah demi langkah hingga memantau proses memasak dari jarak jauh.

Sementara pada mesin cuci, teknologi i-DOS secara otomatis menyesuaikan penggunaan deterjen dan air sesuai beban cucian. Pengguna tidak perlu lagi melakukan pengaturan berulang setiap kali mencuci.

Perubahan kebutuhan tersebut juga tercermin dari meningkatnya adopsi teknologi rumah pintar. Data We Are Social mencatat jumlah rumah tangga pengguna smart home meningkat dari sekitar 9,58 juta pada 2024 menjadi hampir 11 juta pada 2025.

Hal ini menunjukkan semakin besarnya kebutuhan masyarakat terhadap teknologi yang mampu mendukung aktivitas sehari-hari secara lebih praktis. Menurut Fenny Sofyan, Head of Corporate Communications and Government Relations Bosch Indonesia, perubahan tersebut menjadi landasan kampanye "Beres, Bosch".

"Melalui kampanye 'Beres, Bosch', kami ingin mengajak masyarakat melihat bahwa teknologi bukan sekadar menghadirkan lebih banyak fitur. Nilai sesungguhnya justru terletak pada kemampuannya mengurangi kerumitan dalam kehidupan sehari-hari. Ketika teknologi mampu mengambil alih rutinitas yang berulang, keluarga memiliki lebih banyak waktu, kenyamanan, dan ketenangan untuk menikmati momen yang benar-benar penting. Di situlah kami percaya inovasi dapat menghadirkan kenyamanan sekaligus peace of mind," ujar Fenny.

Ke depan, Bosch meyakini bahwa rumah masa depan bukanlah rumah yang dipenuhi semakin banyak perangkat. Rumah masa depan adalah rumah yang menghadirkan teknologi yang mampu bekerja semakin cerdas, saling terhubung, dan memahami kebutuhan penggunanya.

Dengan pendekatan ini, Bosch berharap dapat membantu keluarga Indonesia menjalani kehidupan yang lebih sederhana dan bermakna. Inovasi seperti Kit Robot Humanoid dan teknologi pintar lainnya menjadi bukti bahwa masa depan rumah tangga ada pada kemudahan dan ketenangan pikiran.