Technologue.id, Jakarta – Gerakan cashless society sekarang kedatangan pendukung baru. Sebuah perusahaan rintisan baru, Cashlez Worldwode Indonesia tengah mempersiapkan diri meramaikan industri transaksi non-tunai tanah air.

Cashlez memperkenalkan diri sebagai penyedia layanan pembayaran aman dimana saja. Platform yang disediakan startup ini memanfaatkan alat pembayaran bernama mobile point of sale (mPOS) yang menyerupai mesin electronic data capture (EDC) yang biasa disediakan perbankan kebanyakan.

Bedanya, mesin pendukung transaksi Cashlez tampak lebih ramping dan simpel untuk dibawa kemana-mana. Wajar saja, mPOS memang disediakan Cashlez bagi para pelaku bisnis kelas menengah yang memiliki mobilitas tinggi namun perlu alat simpel untuk mendukung transaksinya.

“Kita sasar pelaku bisnis di kelas UMKM yang biasanya pindah-pindah, misalnya penjual baju dan aksesoris yang biasanya jualan dari bazar ke bazar. Bahkan ini bisa dipakai juga sama tukang bakso dan tukang ojek juga,” ujar Teddy Setiawan Tee, Presiden Direktur PT Cashlez Worldwide Indonesia.

- Advertisement -

mPOS diakui Teddy bisa membantu penggunanya menerima transaksi menggunakan kartu kredit atau debit. Sementara ini sudah ada dua bank yang bermitra dengan Cashlez supaya transaksinya bisa dilayani memakai mPOS, Mandiri dan BNI.

“Sekarang karena masih di tahap awal, total transaksi per mPOS akan kami batasi antara Rp 50 juta hingga Rp 100 juta per bulan. Namun kami tidak menutup kemungkinan untuk meningkatkan limit ke depannya,” tambah Teddy kepada tim Technologue.id.

Pengusaha yang ingin menyediakan mPOS sebagai alat transaksinya membeli seharga Rp 1,7 juta. Kalau merasa keberatan membeli, pengguna bisa menyewa seharga Rp 88 ribu per bulan atau mungkin meminjam ke pihak perbankan yang memberi sponsor.