Technologue.id, Jakarta – Menurut data yang disampaikan oleh Microsoft, bahwa di Indonesia sendiri pada tahun 2015 mengalami peningkatan jumlah kasus cyber crime hingga 389 persen dari tahun 2014. Sementara Security Incident Respons Team on Internet Infrastructure Indonesia (ID-SIRTII) mengungkap, ada sebanyak 90 juta serangan siber terjadi di Indonesia selama Januari hingga akhir Juni 2016.

Adapun salah satu industri yang paling rentan terkena serangan kejahatan siber adalah perbankan. Karena sebagai pemeran dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi digital sebuah negara, perusahaan perbankan kerap mengoptimalkan layanan digital mereka.

“Namun sayangnya di dunia perbankan, meski ketika perusahaan tersebut telah berinvestasi besar pada keamanan TI sebagai bagian dari transformasi digital, Bank masih sering terganggu oleh cybercrime,” tutur Kirby Chong selaku Security Chieaf Information Officer, PT Visionet data International kemarin (2/11/2016) di Jakarta.

Lebih jauh lagi, pada kasus kejahatan siber ini sudah mulai masuk ke tahap dimana pelaku berusaha untuk mendapatkan uang, melakukan kegiatan mata-mata, memanipulasi, atau mengekploitasi informasi, hingga memblokir akses sistem organisasi.

- Advertisement -

“Darimana malware serta segala bentuk cybercrime itu hadir, semuanya bisa saja dari USB yang dimasukkan semisal ke laptop lalu tersebar virus, terdapat informasi yang bocor, atau compliances yang tidak ada,” ujar Tony Seno Hartono, National Technology Officer, Microsoft Indonesia.

Makadarinya, ancaman siber yang menimbulkan kerusakan sekaligus membawa kerugian bagi perusahaan perlu penjaga pintu terdepan bagi barisan teknologi perusahaan dengan menggunakan sistem keamanan siber (cyber security).

Microsoft yang menjadi satu dari sekian penyedia layanan teknologi lantas menjawab tantangan tersebut dengan menyediakan solusi Enterprise Mobility + Security  (EMS). Menurut Pravina Halim sebagai Marketing Manager solusi ini menjelaskan, kalau Microsoft menghadirkan EMS sebagai perlindungan TI tingkat lanjut.

Ia juga mengatakan, EMS menyediakan sistem keamanan berbasis identitas yang memiliki berbagai fitur. Diantaranya sigle-sign on ID yang memungkinkan pengguna mengakses data center perusahaan sehingga tak perlua lagi banyak username atau password. EMS juga dapat membantu deteksi berbagai macam ancaman serta mengindetifikasi masalah keamanan secara cepat.

“Jadi nantinya melalui EMS para pengguna Office 365 diberbagai industri, tak sebatas bank,, akan langsung terlindungi. EMS pun telah dapat terigrasi dengan banyak perangkat sekaligus, baik pengguna sistem operasi Windows, Android, maupun iOS,” tambah Hartono.

Lalu sebenarnya dari sisi TI saja pun tidak pernah cukup dalam melindungi semua perusahaan terhadap serangan siber. Dimana selalu ada tiga poin utama yang harus saling berkesinambungan dan diperhatikan untuk dapat pastikan perusahaan aman dari ancaman cybercrime, yakni teknologi, manusia, dan kepatuhan terhadap peraturan akan sistem keamaan siber milik perusahaan.

Kemudian Hartono menjelaskan lebih lanjut bahwa, pada suatu perusahaan jika ingin aman terhadap maraknya ancaman siber tak cukup hanya menggunakan solusi keamanaan TI, seperti EMS saja. Tetapi dari sisi orang atau penggunanya juga lebih baik jika melek akan TI sehingga, misalnya takkan sembarang mengambil USB kecuali memang dibuka di laptop yang sudah terupdate, dan sebagainya. Sedangkan terakhir, bagaimana perusahaan tersebut mengedukasi karyawannya melalui berbagai peraturan dan ketaatan yang diterapkan.