Jakarta – Pemerintah China secara resmi memblokir rencana akuisisi startup AI agen, Manus, oleh raksasa teknologi Amerika Serikat, Meta, senilai US$2 miliar. Keputusan ini diambil oleh Kantor Mekanisme Kerja untuk Tinjauan Keamanan Investasi Asing di bawah Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional (NDRC) pada akhir April 2026 lalu.

Beijing menegaskan bahwa langkah ini bukanlah bentuk pengetatan kontrol terhadap investasi asing. Pemerintah China justru menyatakan akan terus mendukung ekspansi perusahaan domestik ke luar negeri, selama ekspansi tersebut tidak dilakukan melalui praktik yang disebut sebagai “Singapore washing”.

Media pemerintah China menerbitkan serangkaian komentar untuk menjelaskan kebijakan ini. Tujuannya agar keputusan tersebut tidak mengirimkan sinyal yang salah kepada investor asing mengenai iklim investasi di China.

Dalam sebuah artikel yang diterbitkan pada Kamis lalu, Yuyuan Tantian, akun media sosial afiliasi China Central Television (CCTV), menjelaskan bahwa langkah ini didasarkan pada Undang-Undang Keamanan Investasi Asing China. Pasal 4 aturan tersebut menyebutkan bahwa investasi yang melibatkan keamanan pertahanan nasional wajib dideklarasikan tanpa memandang tingkat kepemilikan asing.

“Manus adalah agen AI serbaguna yang masuk dalam kategori teknologi kunci. Akuisisi oleh Meta akan menghasilkan kendali aktual, dan transaksi semacam itu diwajibkan oleh hukum untuk dideklarasikan secara proaktif oleh perusahaan yang terlibat,” tulis Yuyuan Tantian. Sayangnya, Manus tidak mendeklarasikan transaksi tersebut kepada otoritas China.

Para ahli hukum dan teknologi yang dikutip dalam artikel tersebut mengatakan regulator akan menilai tiga lapis risiko: teknologi, talenta, dan data. “Aset inti Manus, termasuk algoritma, data, dan talenta, dikembangkan di China oleh tim domestik. Transfer kendali ke luar negeri memerlukan tinjauan keamanan nasional,” tulis artikel itu.

Manus pertama kali menarik perhatian global pada Maret 2025 dengan debutnya yang spektakuler. Dikembangkan oleh startup Butterfly Effect yang berbasis di Beijing, sistem ini diposisikan sebagai agen AI serbaguna yang mampu menyelesaikan tugas-tugas kompleks seperti menyaring 10 resume atau menganalisis korelasi saham.

Namun, pada akhir Maret 2026, pendiri Manus Xiao Hong dan rekan pendiri Ji Yichao dilaporkan dilarang meninggalkan China. Larangan ini muncul setelah mereka dipanggil oleh NDRC di Beijing menyusul dimulainya tinjauan keamanan nasional terhadap akuisisi Meta.

Selama setahun terakhir, Manus melakukan restrukturisasi besar. Pada Juni-Juli 2025, perusahaan memindahkan kantor pusatnya ke Singapura dan mengalihkan entitas operasinya menjadi Butterfly Effect Pte. Tim di China daratan dipangkas dari lebih 120 staf menjadi sekitar 40 anggota inti yang direlokasi ke Singapura.

Pada 30 Desember, Meta mengumumkan akuisisi senilai US$2 miliar. Xiao Hong diharapkan mengambil peran senior di perusahaan AS tersebut. Namun pada Januari 2026, regulator turun tangan dan meluncurkan tinjauan yang akhirnya memblokir kesepakatan ini.

Seorang kolumnis bisnis Guangdong dengan nama pena “Shengchandui” mengatakan Manus telah melanggar tiga garis merah di China: kedaulatan teknologi, kedaulatan data, dan keamanan nasional. “Memindahkan perusahaan ke luar negeri dan menjualnya ke pembeli AS sama dengan mengekspor kemampuan yang dikembangkan di dalam negeri. Ini adalah bentuk ‘penyelundupan teknologi’,” tulisnya.

Zhu Youping, peneliti di Pusat Informasi Negara NDRC, mengatakan regulator menerapkan pendekatan “look-through” yang berfokus pada asal teknologi, sumber data, dan kepemilikan talenta. “Relokasi Manus ke Singapura pada dasarnya adalah kasus penggunaan sumber daya domestik untuk menginkubasi nilai dan memonetisasinya melalui struktur luar negeri untuk menghindari pengawasan,” kata Zhu.

Di luar mencegah kendali asing atas Manus, Beijing juga ingin perusahaan itu tetap di China dan berkontribusi pada pengembangan industri AI domestik. Pada 21 April, Dewan Negara mengeluarkan dokumen kebijakan yang menetapkan target output sektor jasa melampaui 100 triliun yuan (sekitar US$13,8 triliun) pada 2030.

Pang Chaoran, peneliti di Akademi Perdagangan Internasional dan Kerjasama Ekonomi China (CAITEC), mengatakan pergeseran ini menandai perubahan arah kebijakan yang jelas: dari mensubsidi perusahaan untuk melatih model AI menjadi mendorong perusahaan swasta di sektor jasa untuk menggunakan model dan agen AI. Langkah ini bertujuan mempercepat komersialisasi dan menanamkan AI lebih dalam ke aktivitas ekonomi nyata.