Technologue.id, Jakarta – Deep Brain Stimulation (DBS) untuk pertama kalinya diuji coba pada pasien kecanduan terhadap obat-obatan. Sebelumnya, tindakan stimulasi otak ini sudah digunakan untuk merawat pasien parkinson, epilepsi dan gangguan kompulsif obsesif.

Uji coba yang rumit dan melibatkan banyak tim termasuk ahli etika, psikolog, dan banyak regulator ini telah mendapat persetujuan oleh US Food and Drug Administration.

Dikutip dari BBC, Senin (11/11/2019), Dokter utama Ali Rezai mengatakan bahwa operasi ini untuk mereka yang telah gagal dalam setiap perawatan, apakah itu obat, terapi perilaku, intervensi sosial.

“Ini adalah uji coba yang sangat ketat dengan pengawasan dari ahli etika dan regulator dan banyak badan pemerintahan lainnya,” ungkap Dokter┬áRezali.

Dr. Rezali juga menunjuk angka yang menunjukkan overdosis adalah penyebab utama kematian dengan usia di bawah 50 tahun di AS. “Lebih dari separuh pasien kambuh. Kita perlu menemukan solusi karena ini adalah situasi yang mengancam jiwa dan sesuatu yang berdampak pada keluarga dan orang-orang terkasih,” sambungnya.

Gerod Buckhalter, 33 tahun, pasien penyalahgunaan zat selama lebih dari satu dekade yang mengalami banyak fase kambuh dan overdosis setelah opioid diresepkan untuk cedera yang dialaminya saat bermain sepak bola telah menjalani operasi ini.

Buckhalter menjalani operasinya pada 1 November di Rumah Sakit Kedokteran Universitas Virginia Barat. Dimulai dengan serangkaian pemindaian otak, kemudian dilakukan pembedahan untuk membuat lubang kecil di tengkorak dan memasukan elektroda berukuran 1mm di area otak yang mengatur impuls seperti kecanduan dan kontrol diri.

Sebuah chip juga dimasukkan di bawah tulang selangka dan kemudian aktivitas otak akan dimonitor dari jarak jauh oleh tim dokter, psikolog dan pakar kecanduan untuk melihat apakah kecanduan berkurang. Selama 2 tahun ke depan, pasien akan dimonitor secara ketat.

Menurut National Institute on Drug Abuse, Virginia Barat memiliki tingkat kematian tertinggi di AS akibat overdosis yang melibatkan opioid. Pada 2017 ada 49,6 kematian per 100.000 orang.