Technologue.id, Jakarta – Tahun 2013 lalu, YouTube merilis video kompilasi bertajuk “Show your pride. Share your love. #ProudToLove”. Video tersebut adalah bentuk dukungan secara moril terhadap komunitas LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, dan Transgender) agar mereka mendapatkan kesetaraan hak dan diperbolehkan menikah.

Namun, apa yang mereka lakukan beberapa waktu lalu dituding berseberangan. Platform video yang diakuisisi oleh Google 2006 silam itu menyembunyikan video tertentu yang mengandung unsur LGBTQ di Restricted Mode. Praktis, protes dari sejumlah vlogger dan kreator YouTube ternama pun menyeruak, terbukti dari munculnya tagar #YouTubeIsOverParty di Twitter.

Menjawab kritik ini, YouTube akhirnya meminta maaf sembari memberikan penjelasan tambahan. Lewat akun @YTCreators, YouTube memaparkan kalau pihaknya bangga bisa membantu user LGBTQ+, tetapi memang mereka tak bisa memaparkan video dengan muatan konten lebih sensitif saat Restricted Mode diaktifkan.

Jawaban YouTube atas tudingan anti LGBT (source: Twitter / YTCreators)

Restricted Mode sendiri adalah fitur khusus bagi user yang hanya ingin menikmati konten secara terbatas di YouTube. Terbatas di sini artinya bebas konten dewasa. Seperti ditambahkan oleh juru bicara YouTube pada TheGuardian (20/03/17), Restricted Mode tak akan menampilkan video yang lebih sensitif soal kesehatan, politik, termasuk seksualitas.

Akan tetapi, alasan YouTube itu masih dinilai diskriminatif. Contohnya, melansir TheVerge (19/03/17), ada video berjudul “8 Black LGBTQ+ Trailblazers Who Inspire Me” dari Tyler Oakley, YouTuber dengan 8 juta subscriber, yang tak bisa diakses di Restricted Mode. Padahal, video tersebut diklaim tak mengandung konten dewasa. Ada juga tutorial make-up dari user transgender yang dicabut dari Restricted Mode.

 

Baca juga:

Milyaran Video di YouTube Kini Punya Subtitle

Cara Memainkan YouTube Sebagai Background App di iOS

Mulai 2018, Google Bakal Hapus Iklan 30 Detik di YouTube