Home Headline Duh, Mark Zuckerberg Ingin Didepak Petinggi Facebook

Duh, Mark Zuckerberg Ingin Didepak Petinggi Facebook

Mark Zuckerberg, CEO Facebook, saat bersaksi di Kongres Amerika Serikat (source: Facebook / SenateGOP)

Technologue.id, Jakarta – Bos besar Facebook, Mark Zuckerberg, kena “ghibah” dari karyawannya sendiri. Sebuah rekaman bocor berisikan curahan hati Benny Thomas, Global Planning Lead Facebook, terhadap kekuasaan Zuckerberg yang dinilai terlampau besar bagi seorang pria berusia 36 tahun.

Thomas mengungkapkan, bahwa Ia bekerja pada sebuah perusahaan yang melakukan banyak kerusakan di dunia.

“Memang banyak kebaikannya, namun melakukan banyak kerusakan,” ucapnya, sebagaimana dikutip dari Midmatters (16/3/2021).

“Maksud saya, tidak ada raja dalam sejarah yang menguasai dua miliar orang, tapi demikianlah Mark Zuckerberg. Dia baru 36 tahun. Itu terlampau besar bagi orang 36 tahun. Anda tak seharusnya punya kuasa pada 2 miliar orang. Saya pikir itu salah,” tambahnya.

Baca Juga:
Facebook Kena Denda Rp 9,2 Triliun, Zuckerberg Tepok Jidat?

Thomas bersikeras supaya beberapa anak perusahaan Facebook seperti Instagram, Oculus dan WhatsApp harus menjadi perusahaan terpisah. Pasalnya terlalu kuat jika mereka semua menjadi satu.

Bahkan, ia juga mengatakan Mark Zuckerberg harus dicopot sebagai CEO Facebook karena dia memegang terlalu banyak kekuasaan. “Saya akan memecahnya dan melengserkan Zuck sebagai CEO,” pungkasnya.

Thomas tampaknya merujuk pada fakta bahwa, lebih dari seabad yang lalu, sejumlah konglomerat Amerika dibubarkan dengan cara yang sama, melalui undang-undang anti-trust.

Thomas menambahkan bahwa berbagai tuntutan hukum yang dihadapi Facebook akan berlarut-larut selama bertahun-tahun dan memperkirakan bahwa tidak akan ada campur tangan pemerintah, mengingat kekuatan besar yang dimiliki oleh Facebook maupun perusahaan besar lain seperti Google.

“Facebook dan Google itu terlalu powerful dan itu perlu dikurangi. Pemerintah perlu bertindak dan memecah Google serta Facebook. Saya akan menghasilkan lebih sedikit uang tapi lebih baik bagi dunia,” tegasnya.

Menurutnya, Facebook dan Google bukan lagi perusahaan, melainkan sebuah negara yang akan lebih berkembang lagi, kecuali dihentikan.

Baca Juga:
Bos Facebook: Kacamata Pintar Jadi Tren 2030, Bisa Teleportasi

Rekaman itu dipublikasikan oleh media Project Veritas, dan Thomas mengetahuinya. Dalam video lengkap yang dirilis secara online, anggota Project Veritas itu bertanya apakah dia ingin “mengklarifikasi” komentarnya sebelum dirilis.

Wartawan itu juga mengusulkan agar Thomas bergabung dengan Project Veritas dalam mengungkap dapur” perusahaan-perusahaan Big Tech yang bermukim di Silicon Valley, namun tawaran tersebut ditolak oleh Thomas.

Belum ada tanggapan dari Facebook mengenai yang menyeret nama pendirinya tersebut.

Facebook adalah salah satu dari lima perusahaan Teknologi Besar yang menerima reaksi keras karena menggunakan kekuatan mereka untuk memanipulasi opini publik dan mengontrol narasi.

Raksasa teknologi ini tidak hanya memiliki rekam jejak panjang dalam menggunakan pemeriksa fakta partisan untuk menyensor dan membungkam postingan dan orang-orang yang tidak disetujuinya, tetapi perusahaan juga menghadapi banyak keluhan dan tuntutan hukum seputar perilaku antikompetitifnya.