Baca juga:
Berapa Banyak Pengguna Facebook di Indonesia?
Menurut Benchmark, seperti dikutip dari BusinessInsider (15/08/17), ketika Kalanick resign dua bulan lalu, ia telah sepakat untuk menyerahkan kursi kosongnya pada dewan direksi untuk menemukan pemimpin baru yang cocok. Namun seiring berjalannya waktu, Kalanick tidak kooperatif dalam proses administrasinya, sehingga menghambat pemilihan CEO anyar Uber.Baca juga:
BlackBerry Bikin Kacamata Pintar, Apa Hebatnya?
Benchmark sebelumnya telah memperingatkan Kalanick sebulan lalu agar segera membubuhkan tanda tangannya di dokumen yang diperlukan. Sayangnya, peringatan itu diacuhkan dan memaksa perusahaan yang juga pernah menyuntik Twitter, Snapchat, dan Instagram tersebut menempuh jalur hukum.Baca juga:
Kejadian investor menggugat founder startup yang sangat didukungnya seperti ini faktanya amat jarang. Namun, Benchmark merasa telah melakukan hal yang tepat dengan mem-blow up masalah ini ke masyarakat luas. Selain mempermasalahkan tindak-tanduk Travis Kalanick, mereka juga menyoroti kurang profesionalnya Uber dengan beroperasi tanpa CFO selama lebih dari dua tahun.