Jakarta – Pemerintah Australia membuka pintu konsultasi mengenai perubahan aturan Capital Gains Tax (CGT) yang berdampak pada sektor startup. Meski menuai protes, peluang untuk mendapatkan keringanan masih terbuka lebar. Para pendiri startup kini memiliki kesempatan untuk menyuarakan kepentingan mereka sebelum kebijakan final ditetapkan.

Namun, pendekatan yang digunakan selama ini dinilai kurang tepat. Alih-alih berfokus pada kerugian pribadi para pendiri, pesan yang lebih kuat adalah bagaimana perubahan ini memengaruhi karyawan dan ekosistem secara keseluruhan. Masyarakat umum tidak terlalu peduli dengan likuiditas para pendiri, mereka lebih khawatir tentang biaya hidup sehari-hari.

Oleh karena itu, strategi komunikasi yang baru harus menekankan manfaat bagi karyawan. Startup menggunakan skema ekuitas untuk menarik talenta terbaik karena tidak bisa bersaing dalam hal gaji tunai. Kesepakatan ini memungkinkan karyawan untuk mengambil risiko lebih besar dengan imbalan potensi keuntungan di masa depan jika perusahaan sukses.

Pesan yang harus disampaikan bukanlah “lindungi keuntungan saya”, melainkan “lindungi kemampuan perusahaan rintisan untuk menarik talenta dan berbagi keuntungan”. Hal ini jauh lebih sulit untuk diabaikan oleh pemerintah dan publik. Fokus pada penciptaan lapangan kerja dan pengembangan keterampilan menjadi kunci utama.

Ekosistem startup juga tidak bisa lagi mengandalkan narasi pertumbuhan lapangan kerja yang lama. Jika dulu pertumbuhan mencapai 20-30 persen per tahun, kini angkanya lebih rendah, sekitar 5-10 persen. Meski demikian, argumen tentang penciptaan lapangan kerja tetap valid, hanya perlu didukung data yang lebih konkret.

Bukti nyata seperti jumlah pekerjaan yang diciptakan, keterampilan yang dikembangkan, dan talenta yang tetap di Australia menjadi sangat penting. Publik perlu melihat bagaimana startup berkontribusi pada perekonomian, bukan hanya pada kantong para pendirinya. Ini adalah kartu yang harus dimainkan dengan tepat oleh para pendiri.

Para pendiri juga tidak boleh melupakan audiens internal mereka, yaitu karyawan. Tim yang ada saat ini sedang mengamati debat publik dan diam-diam menghitung dampaknya terhadap kompensasi mereka. Kepemimpinan yang jelas dan penuh keyakinan sangat dibutuhkan, bukan ketakutan atau kepanikan.

Seperti yang diingatkan Michelle Obama dalam kunjungannya ke Melbourne, “kepemimpinan adalah harapan, bukan ketakutan”. Cara para pendiri membicarakan isu ini akan menciptakan kejelasan atau justru kepanikan di antara tim. Karyawan butuh informasi faktual, bukan sekadar meme atau opini di media sosial.

Ekuitas bukan sekadar baris dalam surat penawaran kerja, itu adalah sebuah janji. Janji tentang masa depan perusahaan, misi, tim, dan imbalan atas risiko yang diambil. Jika aturan mainnya berubah, para karyawan berhak mendapatkan penjelasan yang tenang dan informatif dari pimpinan mereka.

Para pendiri startup di Australia dapat belajar dari ekosistem global yang dinamis. Di Indonesia, berbagai inisiatif seperti Indosat Perluas Kiprah Global untuk startup perempuan menunjukkan pentingnya dukungan ekosistem. Sementara itu, sektor climate tech juga menunjukkan potensi besar meski menghadapi tantangan.

Pendiri startup harus ingat bahwa kesuksesan perusahaan lebih bergantung pada apa yang dilakukan tim hari ini, bukan pada potensi keuntungan di masa depan. Fokus pada operasional dan pengembangan produk tetap menjadi prioritas utama. Jangan biarkan ketidakpastian pajak mengalihkan perhatian dari hal-hal fundamental.

Pintu konsultasi masih terbuka, jangan sia-siakan dengan argumen yang lemah. Dukung inovasi, tetapi sampaikanlah melalui sudut pandang orang-orang yang membangunnya. Karyawanlah yang mengambil risiko, timlah yang menciptakan nilai, dan keterampilanlah yang dikembangkan.

Kisah yang bisa didengar pemerintah, dipahami publik, dan diyakini oleh tim adalah tentang berbagi keuntungan di luar meja pendiri dan investor. Inilah narasi yang akan memenangkan konsultasi kebijakan. Para pendiri yang menangani situasi ini dengan baik tidak akan menjadi yang paling keras di media sosial.

Mereka akan menjadi orang yang mampu mengubah ketidakpastian menjadi kepercayaan. Kepercayaan itu pada gilirannya akan menjadi alasan yang lebih kuat bagi talenta untuk bergabung, bertahan, dan membangun. Pintu masih terbuka, sekarang saatnya menceritakan kisah yang tepat.

Deepak Singh, pendiri dan chief culture officer di Mission and Rhythm, menekankan pentingnya budaya perusahaan yang tepat. Startup yang mampu mengelola krisis komunikasi ini justru akan keluar sebagai pemenang. Mereka akan memiliki tim yang lebih solid dan tujuan yang lebih jelas ke depannya.

Dengan strategi yang tepat, perubahan kebijakan pajak tidak harus menjadi bencana. Ini bisa menjadi momen untuk memperkuat ikatan dengan karyawan dan menunjukkan nilai sebenarnya dari ekosistem startup. Masa depan inovasi Australia bergantung pada kemampuan para pendiri untuk beradaptasi dan berkomunikasi secara efektif.