Technologue.id, Jakarta – Kenal Epic Games? Ya, mereka adalah pengembang video games asal Amerika Serikat. Perusahaan 27 tahun itu jugalah kreator Fortnite, game survival yang begitu mendunia saat ini.

Semenjak Epic Games menambahkan mode “Battle Royale” pada Fortnite pada September 2017 lalu, game third-person shooter itu makin tak terbendung popularitasnya. Ada lebih dari 200 juta akun yang telah terdaftar. Pemain Fortnite sendiri perbulannya mencapai 80 jutaan.

Baca juga:

Dalam 200 Hari, Segini Pemasukan Fortnite dari Pengguna iOS

Rasa percaya diri mereka pun meningkat drastis. Kamis malam waktu AS (06/12/2018) bersamaan dengan ajang penghargaan tahunan industri game The Game Awards, Epic Games meluncurkan layanan launcher game-nya, Epic Games Store.

Layanan ini mirip dengan Stream dari Valve, App Store milik Apple, atau Play Store yang dikelola Google. Lewat akun Epic Games Anda (yang biasa Anda pakai untuk login ke Fortnite), Anda dapat memperbarui Fortnite di PC dengan mudah, berkomunikasi dengan user lain, melacak pembelian, dan masih banyak lagi.

Baca juga:

Fortnite Catatkan 200 Juta Pemain di Seluruh Dunia

“Store ini akan hadir dengan sekumpulan game yang dikurasi mannual di PC dan Mac, kemudian kammi bakal menambah game-game lain dan merambah ke Android sekaligus platform lain pada 2019,” jelas CEO Epic Games, Tiim Sweeney, dalam pernyataan resminya.

Menariknya, Epic Games Store menjanjikan pembagian yang cukup besar bagi developer, yaitu sebesar 88 persen dari revenue. “Dan kalau Anda menggunakan Unreal Engine, Epic akan meng-cover 5 persen royalty engine untuk penjualannya di Epic Games Store dari porsi Epic sebesar 12 persen,” imbuh mereka.

Baca juga:

Begini Cara Unduh Fortnite di Smartphone Android

Jumlah pembagian itu lebih tinggi dibandingkan toko aplikasi lainnya. Di Valve, App Store, maupun Play Store, setiap game atau aplikasi yang terjual, developer menerima potongan sebesar 30 persen. Inilah yang menurut Fortnite terlalu memberatkan bagi developer yang merogoh koceknya untuk mengembangkan hingga mengoperasikan platformnya sendiri. Tak ayal, ketika Fortnite meluncur untuk platform Android beberapa waktu lalu, mereka enggan menjajakannya di Play Store karena “pajak” yang terlalu tinggi.

Kira-kira, mampukah Epic Games Store mengubah bisnis aplikasi dan game ke depannya? Mari tunggu bersama.