Technologue.id, Jakarta - ASEAN Foundation bersama Google.org resmi meluncurkan temuan krusial terkait kesiapan kecerdasan buatan di kawasan Asia Tenggara. Langkah strategis ini diambil guna memetakan kesiapan negara anggota dalam menghadapi ledakan teknologi masa depan.
Peluncuran laporan ASEAN Digital Outlook dan riset AI Ready ASEAN tersebut dilakukan dalam pertemuan regional di Manila, Filipina. Laporan ini menjadi kompas penting bagi negara anggota untuk menyelaraskan tata kelola digital serta memperkuat infrastruktur.
Ekonomi digital ASEAN diprediksi akan menyentuh angka fantastis USD 1 triliun pada tahun 2030 berkat dorongan teknologi. Kesiapan institusi dalam menghadapi disrupsi teknologi menjadi kunci agar tidak ada negara yang tertinggal dalam kompetisi global.
Indonesia menjadi sorotan utama dalam riset ini karena menunjukkan tingkat adopsi AI yang sangat masif di kalangan pelajar. Data menunjukkan bahwa generasi muda tanah air sangat responsif terhadap kehadiran teknologi kecerdasan buatan.
Sebanyak 95,25% siswa di Indonesia tercatat sudah aktif menggunakan model AI generatif untuk berbagai kebutuhan harian mereka. Angka penggunaan yang tinggi ini jauh melampaui tingkat adopsi oleh orang tua maupun para pendidik di sekolah.
Baca Juga:
Fenomena tersebut menciptakan kesenjangan antar generasi yang cukup lebar dalam hal literasi teknologi dan pemahaman digital. Banyak pendidik yang masih merasa kurang percaya diri serta minim mendapatkan akses pelatihan terstruktur dari institusi.
Kesenjangan literasi ini membawa risiko serius, terutama dengan meningkatnya ancaman siber seperti penipuan berbasis deepfake dan misinformasi. Kecepatan adopsi teknologi seringkali melampaui kemampuan sistem regulasi untuk mengarahkannya secara bijak dan bertanggung jawab.
Perkembangan teknologi AI Generatif yang pesat menuntut adanya pemahaman etika dan dampak sosial jangka panjang. Fokus pembahasan kini harus beralih dari sekadar akses perangkat menuju keamanan data pribadi yang lebih komprehensif.
Laporan ASEAN Digital Outlook memperingatkan bahwa pendekatan kebijakan yang terfragmentasi hanya akan memperlemah perlindungan terhadap kepercayaan publik. Kerangka tata kelola yang inklusif dan kolaboratif di tingkat regional menjadi harga mati bagi stabilitas kawasan.
Investasi pada sumber daya manusia, terutama komunitas dan pendidik, harus diprioritaskan agar teknologi dapat digunakan secara produktif. Hal ini sejalan dengan potensi ekonomi di mana perusahaan bisa mencetak laba 2025 yang lebih tinggi.
Para pengambil kebijakan kini memiliki landasan kuat untuk merancang intervensi yang tepat sasaran berkat data riset ini. Tujuannya adalah mewujudkan transformasi digital yang canggih sekaligus memberikan manfaat nyata bagi seluruh lapisan masyarakat.