Jakarta – Di tengah meningkatnya harga bahan bakar dan tantangan transisi energi yang dihadapi berbagai sektor industri, Grab menegaskan komitmennya untuk mempercepat adopsi kendaraan listrik (electric vehicle/EV) sebagai bagian dari strategi jangka panjang dalam mendukung mobilitas berkelanjutan dan efisiensi operasional.

Perusahaan ride-hailing tersebut menyatakan akan terus memperluas penggunaan armada kendaraan listrik, baik roda dua maupun roda empat, sekaligus memperkuat kerja sama dengan penyedia infrastruktur pendukung seperti stasiun pengisian daya dan ekosistem kendaraan listrik lainnya.

"Grab akan terus mengakselerasi electric vehicle, baik armada maupun kerja sama dengan penyedia infrastruktur electric vehicle untuk memastikan bahwa ini juga cukup," ujar Tyas Widiastuti, Director of Mobility, Food & Logistics, Grab Indonesia, dalam acara Grab Business Forum 2026, di Jakarta, Selasa (9/6/2026).

Grab mengklaim saat ini menjadi platform ride-hailing dengan adopsi kendaraan listrik terbesar di Indonesia. Berdasarkan data perusahaan tahun lalu, Grab telah mengoperasikan sekitar 11.000 sepeda motor listrik dan 3.000 mobil listrik yang digunakan oleh mitra pengemudi di berbagai kota.

Jumlah tersebut dipastikan akan terus bertambah. Perusahaan bahkan menargetkan total armada kendaraan listriknya meningkat lebih dari tiga kali lipat pada akhir tahun ini dibandingkan periode sebelumnya.

Selain mendukung agenda keberlanjutan, kendaraan listrik juga dinilai memberikan manfaat ekonomi yang signifikan bagi mitra pengemudi maupun pelaku usaha yang menggunakan layanan transportasi berbasis EV.

Grab menyebut biaya operasional kendaraan listrik dapat berkurang hingga 50 persen dibandingkan kendaraan berbahan bakar konvensional. Penghematan tersebut berasal dari biaya energi yang lebih rendah serta kebutuhan perawatan yang relatif lebih sedikit.

Kondisi ini menjadi semakin relevan di tengah tren kenaikan harga bahan bakar yang berpotensi meningkatkan biaya operasional transportasi dan logistik.

"Kita percaya bahwa inisiatif ini membantu untuk mengurangi cost. Terbukti bahwa operasional cost-nya berkurang 50%," jelas Tyas.

Bagi perusahaan dan pelaku bisnis, peningkatan armada kendaraan listrik tidak hanya menjadi simbol komitmen lingkungan, tetapi juga dapat dikonversi menjadi indikator keberlanjutan yang terukur.

Langkah ini juga sejalan dengan upaya pemerintah dalam mempercepat penggunaan kendaraan listrik nasional guna mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil dan mencapai target net zero emission dalam beberapa dekade mendatang.