HomeGadgetGusur Xiaomi, Honor Masuk Top 3 Brand Smartphone China

Gusur Xiaomi, Honor Masuk Top 3 Brand Smartphone China

Technologue.id, Jakarta – Brand smartphone Honor kini menjadi produsen smartphone Top 3 di China, berdasarkan riset Canalys dalam laporan terbarunya.

Menurut data lembaga penelitian untuk periode Juli-September, Honor berhasil mengirimkan 25% lebih banyak ponsel daripada sebelum berpisah dari Huawei. Dua tempat teratas tetap ditempati oleh vivo dan Oppo. Sementara Xiaomi dan Apple menduduki posisi keempat dan kelima.

Pemimpin pasar yakni vivo memantapkan posisinya dengan mengirimkan 18,3 juta unit untuk pangsa 23%.

Baca Juga:
Honor Play5 Youth Diam-diam Meluncur di Cina, Begini Spesifikasi-nya

Sementara OPPO, yang kini telah bergabung dengan OnePlus, tetap di posisi kedua dengan 16,5 juta pengiriman. Honor masuk dalam tiga besar untuk pertama kalinya, dengan pangsa pasar melonjak dari 9% di Q2 menjadi 18% di Q3.

Kemudian, Xiaomi berada di peringkat keempat dengan pengiriman 10,9 juta unit di tengah kendala pasokan, sementara Apple masih bercokok di posisi buncit lima besar dengan pengiriman 8,3 juta unit.

Menurut Canalys, Honor menjadi vendor yang menonjol pada kuartal ini. Perusahaan independen dari Huawei ini mencapai pertumbuhan berurutan sebesar 105% karena didorong oleh seri Play 20, X20, dan flagship 50.

“Honor sekarang mengirimkan sinyal yang jelas bahwa merek tersebut telah kembali setelah berpisah dari Huawei, dan sinyal ini akan melampaui China untuk bergema di seluruh dunia,” keterangan dari situs resmi Canalys.

Baca Juga:
Honor Terancam Masuk Daftar Hitam AS

Dilansir dari GSMArena (29/10/2021), Pasar smartphone Tiongkok mengalami penurunan secara keseluruhan. Bahkan produsen smartphone di luar 5 besar kehilangan lebih dari setengah dari pengiriman mereka dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Total penjualan mencapai 78,8 juta, atau turun 5% YoY.

Canalys memprediksi, kondisi pasar smartphone domestik masih belum cerah. Vendor smartphone masih dihantui oleh kendala kekurangan pasokan chipset, serta masalah rantai pasokan lainnya.

“Sehingga akan sangat sulit untuk mengukir volume dan pendapatan tambahan dari pasar yang sudah jenuh,” papar Canalys.

- Advertisement -

Berita Lainnya

See More