Technologue.id, Jakarta – Hampir sebagian besar dari Anda pasti mengaggap Silicon Valley adalah kiblatnya industri teknologi informasi dunia. Sebab di sana, perusahaan berskala global lahir, tumbuh, dan berjaya. Tak ayal, para pemain startup di Indonesia pun tergerak untuk meniru dan mengadaptasi apa yang ada di tanah berdirinya markas Apple, Google, dan kawan-kawannya itu.

Namun sebenarnya, perlu atau benarkah startup lokal melakukan ini?

“Anda tak perlu meniru apa yang terjadi di Amerika Serikat sana. Pertama, ekosistem di Asia Tenggara tidak sama. Ekosistem kita belum cocok dengan model bisnis yang begitu cepat besar dan cepat pula jatuhnya,” demikian pesan CEO Matryzel Consulting Inc., Bobby Varanasi.

CEO Matryzel Consulting Inc, Bobby Varanasi (source DigitalNewsAsia)
CEO Matryzel Consulting Inc, Bobby Varanasi (source DigitalNewsAsia)

Di samping itu, masih menurut Bobby, ASEAN masih tergolong sebagai kawasan berkembang. Alhasil, orang-orang di sini masih membutuhkan kebutuhan hidup mendasar, seperti makanan, kesehatan, pendidikan, dan lain-lain. Aplikasi apalagi big data belum menjadi prioritas atau bahkan bagian hidup kebanyakan masyarakat di sini.

Di konferensi Digital News Asia’s What’s Next 2016 itu, Bobby mencontohkan bagaimana startup seharusnya bisa mencermati masalah yang terjadi di sekitarnya dan memberikan solusi yang lebih baik. Ia lalu mencontohkan apa yang dilakukan Unilever untuk menjaring konsumen di perkampungan miskin di India. Ketimbang fokus menjual sampo literan, mereka lebih memilih memacu penjualan sampo sachet. Alasannya simpel, mereka menemukan kalau ternyata target konsumennya di sana perlu membagi uangnya yang tak seberapa itu untuk berbagai kebutuhan. Kalau mereka membeli sampo 1 liter, maka bisa jadi mereka tidak bisa makan.

Dari strategi sederhana itu, siapa yang sangka kalau pemasukan Unilever dalam tiga bulan dari penjualan sampo kemasan kecil saja bisa mencapai Rp 4 triliun.

“Saya rasa banyak startup di sini yang salah mengambil strategi,” tandas Bobby, seperti dikutip dari DigitalNewsAsia (1/8/16).

 

Baca juga:

DIGUYUR RP 7 TRILIUN, GO-JEK SIAP KUASAI INDONESIA

CAROUSELL DAPAT PENDANAAN SERI B SENILAI US$35 JUTA

SALE STOCK INDONESIA KINI PUNYA AKUN RESMI DI LINE