HeadlineIlmuwan China Dikabarkan Bisa Sulap CO2 Jadi Makanan

Ilmuwan China Dikabarkan Bisa Sulap CO2 Jadi Makanan

Technologue.id, Jakarta – Ilmuwan China dikabarkan telah menemukan cara baru untuk mengubah karbon dioksida dan air menjadi glukosa dan asam lemak.

Makalah penelitian yang diterbitkan Kamis lalu itu menyebutkan, teknologinya diharapkan berguna untuk mengatasi masalah lingkungan. “Sambil menghasilkan industri manufaktur yang digerakkan oleh listrik terbarukan,” lapor Xinhua dikutip CGTN.

Teknik ini muncul setelah sekelompok peneliti lain di China berhasil mensintesis pati dari karbon dioksida pada 2021. Temuan ini menawarkan pendekatan baru untuk memproduksi makanan buatan atau semibuatan.

Baca juga:
Lebih Menakutkan dari Bayraktar TB2, AS Mau Kirim Drone Canggihnya ke Ukraina

Diterbitkan di Nature Catalysis, jurnal sains bulanan online yang menggabungkan penelitian terbaik dari semua bidang katalisis, para peneliti memperkenalkan elektro-biosistem hibrida.

Sistem ini menggabungkan elektrolisis karbon dioksida yang terpisah secara spasial dengan fermentasi ragi Ini secara efisien mengubah karbon dioksida menjadi glukosa dengan hasil yang tinggi.

Para peneliti menggunakan katalis tembaga berstruktur nano yang dapat secara stabil mengkatalisis asam asetat murni dari karbon dioksida. Kemudian menggunakan ragi rekayasa genetika untuk menghasilkan glukosa in vitro dari asam asetat yang dihasilkan secara elektro.

Baca juga:
Ponsel China Merajai Dunia, tapi Industri Chip-nya Hanya Cicipi 4% Pasar Global

“Metode ini juga terbukti mampu menghasilkan produk lain seperti asam lemak menggunakan karbon dioksida,” menurut penelitian tersebut.

“Proses ini dapat dipahami sebagai mengubah karbon dioksida menjadi cuka dan memberi makan ragi untuk menghasilkan glukosa dan asam lemak,” klaim Zeng Jie, rekan penulis makalah dari University of Science and Technology of China.

Peneliti mengutarakan, mendaur ulang karbon dioksida menjadi produk bernilai tambah mewakili kemungkinan menggiurkan dari industri manufaktur yang digerakkan oleh listrik terbarukan. Ini peluang yang belum dimanfaatkan secara substansial untuk mengatasi masalah lingkungan dan mencapai ekonomi sirkular.

“Dengan reaktor elektrolit dan mikroorganisme yang berbeda, kami dapat menghasilkan pati, pigmen atau obat-obatan di masa depan,” kata Xia Chuan, rekan penulis makalah dari Universitas Sains dan Teknologi Elektronik China.

Related articles

Lubang Hitam untuk Pertama Kali Tertangkap Teleskop EHT, Begini Wujudnya

Technologue.id, Jakarta - Para astronom telah menangkap gambar pertama...

Tak Tahan “Disekap” di Asrama, Buruh Pabrik Perakitan Apple Ngamuk

Technologue.id, Jakarta - Sebuah video yang baru-baru ini muncul...

Elliott Tanner, Bocah 13 Tahun Peraih Gelar Sarjana Fisika

Technologue.id, Jakarta - Seorang anak ajaib di bidang sains...

Puaskan Nafsu Ilmuwan, NASA Habiskan Rp61 Triliun untuk Misi Uranus di 2049

Technologue.id, Jakarta - Ilmuwan mendorong NASA menjalankan misi senilai...

Profesor Jepang Benamkan Komputer Mini ke Sumpit Makanan

Technologue.id, Jakarta - Peneliti Jepang telah mengembangkan sumpit komputerisasi...