Technologue.id, Jakarta – Beijing kembali menggelar lomba lari setengah maraton robot humanoid sebagai ajang pembuktian kemajuan teknologi robotika. Setelah penyelenggaraan perdana tahun lalu menuai banyak sorotan karena berbagai insiden kocak, kompetisi tahun ini berlangsung jauh lebih lancar dan menunjukkan peningkatan signifikan.
Lomba yang menempuh jarak sekitar 13 mil ini diikuti oleh lebih dari 100 robot humanoid dari berbagai perusahaan teknologi Tiongkok. Highlight utama tertuju pada perusahaan teknologi Honor, yang berhasil mendominasi podium dengan robot andalannya bernama Lightning.
Robot berbalut warna merah tersebut tampil impresif dengan menyelesaikan lomba dalam waktu 50 menit 26 detik. Catatan ini bahkan beberapa menit lebih cepat dibandingkan rekor manusia terbaru yang dicetak oleh pelari Uganda, Jacob Kiplimo, dalam ajang serupa baru-baru ini.
Tak hanya meraih juara pertama, Honor juga menyapu posisi teratas lainnya. Yang menarik, robot-robot tersebut mampu menavigasi lintasan secara otonom tanpa bantuan langsung manusia.
Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, peningkatan performa ini cukup mencolok. Pada edisi sebelumnya, robot tercepat, Tiangong Ultra, mencatat waktu dua jam 40 menit. Selain itu, banyak robot saat itu masih bergantung pada operator manusia yang berlari di samping mereka, bahkan tak sedikit yang mengalami kegagalan teknis seperti terjatuh di garis start.
Meski demikian, laporan dari media internasional menyebutkan bahwa sekitar 40 persen robot pada lomba tahun ini benar-benar beroperasi secara otonom, sementara sisanya masih dikendalikan dari jarak jauh. Beberapa insiden kecil pun masih terjadi selama perlombaan, termasuk pada robot milik Honor.