Contact Information

Alamat: Komplek Rumah Susun Petamburan Blok 1 Lantai Dasar, Tanah Abang - Jakpus 10260

We're Available 24/ 7. Call Now.
Waspada Peningkatan Kasus Penipuan Digital Jelang THR Cair
SHARE:

Technologue.id, Jakarta - Menjelang momen pencairan Tunjangan Hari Raya (THR), masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai bentuk penipuan digital. Berdasarkan data internal dari perusahaan penyedia identitas digital VIDA, lonjakan kasus penipuan sepanjang tahun 2025 paling banyak terjadi pada periode menjelang hingga saat pencairan THR.

Momentum ini biasanya ditandai dengan meningkatnya aktivitas transaksi keuangan, belanja daring, serta mobilitas masyarakat yang lebih tinggi menjelang perayaan hari besar. Kondisi tersebut secara tidak langsung menciptakan lebih banyak peluang bagi pelaku kejahatan siber untuk melancarkan aksinya.

Direktur Pengawasan Sertifikasi dan Transaksi Elektronik Komdigi, Teguh Arifiyadi, menjelaskan bahwa secara umum, pola serangan siber selama Ramadan memang memiliki tren yang cukup konsisten dari tahun ke tahun. Pada awal hingga pertengahan Ramadan, jumlah kasus biasanya belum menunjukkan peningkatan yang signifikan. Namun, menjelang Idulfitri, ketika aktivitas transaksi meningkat, maka angka serangan siber cenderung mengalami kenaikan.

"Kalau sekarang sebenarnya belum bisa kita bilang ada kenaikan, karena masih di tengah Ramadan dan datanya baru setengah periode. Biasanya perbandingan baru bisa terlihat setelah Ramadan selesai,” ujar Teguh, dalam acara Peluncuran Kampanye “Jangan Asal Klik” oleh VIDA, di Jakarta, Selasa (10/3/2026).

Dia menerangkan, meski belum dapat disimpulkan untuk tahun ini, namun pola tahunan menunjukkan tren yang relatif serupa. Menjelang Lebaran, angka serangan siber hampir selalu meningkat seiring melonjaknya aktivitas transaksi digital masyarakat. Setelah periode Lebaran berakhir, jumlah serangan biasanya kembali menurun.

"Menjelang lebaran angkanya pasti akan akan naik. Tapi setelah lebaran dia (serangan siber) akan turun lagi. Tapi dari Ramadan ke Ramadan tahun ke tahun itu meningkat," jelasnya.

Meningkatnya transaksi digital pada periode tersebut membuat banyak pengguna kurang waspada ketika menerima pesan, tautan, atau permintaan tertentu yang mengatasnamakan lembaga resmi, perusahaan, maupun pihak perbankan. Situasi ini kerap dimanfaatkan oleh pelaku untuk melakukan berbagai modus penipuan seperti phishing, social engineering, hingga penyalahgunaan identitas digital.

Selain itu, kebutuhan masyarakat untuk melakukan berbagai transaksi secara cepat menjelang hari raya juga membuat sebagian pengguna cenderung terburu-buru saat melakukan verifikasi atau mengeklik tautan tertentu. Hal ini dapat meningkatkan risiko kebocoran data pribadi maupun akses tidak sah ke akun digital.

Oleh karena itu, pengguna layanan digital disarankan untuk selalu memastikan keaslian pesan atau informasi yang diterima, terutama jika berkaitan dengan transaksi keuangan, hadiah, atau informasi pencairan dana.

Masyarakat juga dianjurkan untuk tidak sembarangan membagikan kode verifikasi (OTP), informasi pribadi, maupun akses akun kepada pihak yang tidak dikenal. Selain itu, penggunaan sistem identitas digital yang aman serta verifikasi berlapis dinilai dapat membantu meminimalkan risiko penipuan.

Victor Indajang, Chief Operating Officer VIDA

VIDA telah menggunakan salah satu teknologi bernama liveness detection, yang berfungsi memastikan bahwa proses verifikasi identitas benar-benar dilakukan oleh manusia secara langsung, bukan oleh gambar, rekaman, atau manipulasi digital.

Teknologi liveness detection pada dasarnya digunakan untuk mendeteksi apakah seseorang yang melakukan verifikasi identitas benar-benar “live” atau nyata. Sistem ini dapat membedakan antara pengguna asli dengan upaya spoofing, seperti penggunaan foto, video, atau rekayasa visual lainnya.

"Dari VIDA sendiri kita membantu klien kita untuk mengimplementasi yang namanya Liveness Detection. Liveness Detection itu fungsi utamanya adalah untuk detect live atau tidak, spoof atau bukan spoof, fake atau bukan. Jadi, Liveness Detection ada standar tertentu yang harus kita penuhi," tutur Victor Indajang, Chief Operating Officer VIDA.

Namun dengan perkembangan AI yang sangat cepat, teknologi ini saja dinilai tidak lagi cukup untuk menghadapi berbagai modus penipuan digital yang semakin canggih.

Dalam praktiknya, liveness detection sering kali menjadi pintu pertama dalam alur verifikasi bisnis digital. Setelah itu, perlindungan keamanan dapat diperkuat dengan berbagai lapisan lain, seperti sistem perlindungan perangkat lunak dari pelaku bisnis maupun teknologi keamanan tambahan dari penyedia solusi identitas digital.

Pendekatan berlapis ini bertujuan untuk memastikan bahwa setiap proses verifikasi identitas tidak hanya bergantung pada satu metode saja, tetapi juga didukung oleh analisis perilaku perangkat dan sinyal digital lainnya.

Salah satu teknologi terbaru yang mulai diterapkan adalah device intelligence, yang memungkinkan sistem mendeteksi karakteristik perangkat saat proses verifikasi berlangsung.

Teknologi ini bekerja dengan mengumpulkan berbagai sinyal dari perangkat yang digunakan pengguna, termasuk pola gerakan atau getaran kecil yang secara alami terjadi ketika seseorang memegang ponsel.

Dalam kondisi normal, bahkan ketika seseorang mencoba diam saat mengambil foto untuk verifikasi identitas, perangkat tetap akan mengalami getaran mikro yang sangat halus karena dipegang oleh manusia. Getaran kecil ini dapat terdeteksi oleh sensor pada perangkat.

Sebaliknya, ketika proses verifikasi dilakukan menggunakan konten yang dihasilkan AI atau melalui skema manipulasi seperti device farming, pola tersebut dapat terlihat berbeda.

"Manusia itu sebenarnya dalam keadaan diam pun, sebenarnya ada getaran. Dan getaran itu terdeteksi di device. Fitur device intelligence salah satu fungsinya adalah men-detect bahwa ini nggak ada getaran nih, apakah device-nya dalam keadaan benar atau tidak," ungkap Victor.

SHARE:

BYD Denza Z9 GT Siap Mengaspal di Indonesia Paruh Kedua 2026

Baru Dua Minggu Mengaspal, Komponen Jaecoo J5 EV Copot! Kualitas Dikorbankan Demi Kejar Produksi?