Technologue.id, Jakarta – Seperti yang sudah redaksi laporkan sebelumnya, Go-Jek bulan ini mendapat guyuran dengan nilai fantastis dari sejumlah venture capitalist. Nominalnya mencapai Rp 7 triliun.

Selain menjadi prestasi startup pimpinan Nadiem Makariem itu sendiri, fenomena ini layak dijadikan momentum untuk menunjukkan betapa berpotensinya ekosistem startup Indonesia. Bahkan, Indonesia pun layak disebut sebagai ‘Tiongkok baru’, karena potensi pasarnya yang tinggi sekaligus arah perkembangan yang relatif mirip dengan Negeri Tirai Bambu itu 12 tahun lalu.

“Indonesia punya market yang sangat kuat, dengan penduduk 250 juta orang, populasi anak muda yang besar, serta proses perkembangan yang hampir sama dengan Tiongkok saat revolusi internet dimulai di sana 2004 silam,” begitu terang Adrian Li pada DigitalNewsAsia (18/8/16).

Dari pantauannya ini, Li, yang juga pendiri sekaligus managing partner Convergence Ventures itu, pun meyakini kalau ada startup berbasis teknologi yang ingin menguasai pasar Asia Tenggara, pintu masuknya adalah Indonesia.

Sementara itu, berdasarkan paparan Venture Pulse Report bikinan CB Insights dan KPMG, aktivitas para VC di Indonesia meningkat sangat drastis di kuartal kedua tahun ini, kendati jumlah deal yang terjadi relatif stagnan. Bahkan, value-nya tertinggi sepanjang sejarah investasi startup Tanah Air. Dengan suntikan terakhir pada Go-Jek plus untuk sejumlah startup lain, nilai investasi startup Indonesia pada Q3 2016 bakalan meroket lebih jauh.

aktivitas VC di Indonesia

 

Baca juga : 

KEHILANGAN BARANG DI GO-SEND, BAGAIMANA NASIB PELANGGAN GO-JEK?

MIMPI BESAR DELIVEREE DI PASAR LOGISTIK INDONESIA

SEKARANG CARI KERJA ONLINE MAKIN GAMPANG