Technologue.id, Jakarta – Indosat Ooredoo menggelar rangkaian uji coba dan pameran teknologi 5G selama dua hari mulai tanggal 22-23 November di Kantor Pusat Indosat Ooredoo, Jakarta. Sesi trial ini terwujud berkat kerjasama dengan Ericsson.

Demo dan uji coba ini diadakan untuk merasakan kelebihan dari teknologi 5G yang bisa dilakukan oleh pelanggan dan masyarakat, terutama kalangan enterprise. Dalam acara ini pun turut diramaikan oleh pelanggan bisnis dari anak perusahaan Ooredoo Group tersebut.

“Indosat Ooredoo menjadi adopter di awal layanan 5G. Namun implementasi ini ditujukan kepada pelanggan business-to-business (B2B). Use cases ini bisa dinikmati oleh pelanggan B2B, dan bukan consumer,” kata Arief Musta’in, Director & Chief Innovation Officer Indosat Ooredoo, ditemui dalam uji coba ini di Kantor Indosat Ooredoo, Jakarta, Kamis (22/11/2018).

Ia melanjutkan, “Banyak bisnis dan multinational company yang akan membutuhkan kecepatan, bandwidth tinggi, dan latency yang rendah. Biasanya adopsi teknologi di retail dulu, namun justru (5G) di enterprise. Karena teknologi ini bisa meningkatkan efisiensi dan kualitas hidup kita.”

Baca juga:

Rayakan HUT ke-51, Indosat Ooredoo Hadirkan Paket Internet Spesial Cuma Rp51

Use case teknologi 3D-Augmented Reality (Choiru Rizkia / Technologue.id)

Adapun experience yang bisa dinikmati selama dua hari ini antara lain 5G test bed, 3D-Augmented Reality, NB-IoT, dan connected drone.

Indosat Ooredoo melakukan uji coba pengalaman 5G yang inovatif yang pertama di Indonesia melalui 3D-Augmented Reality (3D-AR). Operator telco yang baru menginjak usia 51 tahun ini menjadi yang pertama di Indonesia melakukan demo 3D-AR Collaboration tersebut.

Augmented Reality memiliki potensi yang sesuai untuk kasus penggunaan pada perusahaan serta pengaplikasiannya pada konsumen. Contoh industri yang akan mendapat manfaat dari Augmented Reality termasuk industri jasa yang menyediakan bantuan jarak jauh, perawatan kesehatan, pendidikan dan ritel.

Baca juga:

Dongkrak Pertumbuhan Pendapatan, Indosat Ooredoo Incar Infrastruktur Publik

Kecepatan 5G test bed mencapai ~10Gbps per UE (User Equipment) dari total 20Gbps, yang berarti jauh lebih cepat daripada LTE. 5G test bed juga memiliki beam tracking sebagai salah satu kemampuan unggulan 5G yang memungkinkan kapasitas serta kinerja yang lebih tinggi. Selain itu, teknologi ini juga memungkinkan streaming video 4K ke UE melalui radio 5G.

Selain menampilkan 5G test bed dan 3D-AR, baik Indosat Ooredoo maupun Ericsson juga menghadirkan demo lain, seperti; 5G deployment considerations dan connected drones yang dapat diuji coba dari jarak yang lebih jauh atau dengan jalur penerbangan yang telah ditentukan sebelumnya. Untuk melakukan itu, diperlukan konektivitas 5G nirkabel berlatensi rendah yang andal.

Pada demo ini, drone nano terbang di atas model 3D-kota. Ada juga LAA, yang merupakan solusi untuk hotspot berkapasitas tinggi (misalnya di bandara, stadion, pusat perbelanjaan), yang menggunakan spektrum unlicense untuk meningkatkan kecepatan/kapasitas tambahan untuk LTE dan kemungkinan koeksistensi dengan WiFi. Yang terakhir di demo adalah NB-IoT yang akan dipakai untuk berbagai kasus penggunaan oleh Indosat Ooredoo.

Baca juga:

Ganti Bos, Indosat Ooredoo Kebut Transformasi SDM

Dengan menggelar uji coba use case 5G ini, Arief menyebut industri telekomunikasi ini suatu saat akan menghadapi perkembangan teknologi yang selalu mengalami perkembangan. Dimulai dari 2G, 3G, 4G, dan mendatang 5G.

“Kami masih roll out 4G, tapi sekarang sudah mulai trial 5G. Future of telco business yang didorong oleh teknologi, mau tidak mau Indosat Ooredoo harus menjadi utama melakukan ini,” tuturnya.

Ismail, Dirjen SDPPI Kominfo, menjelaskan bahwa penerapan 5G memang agak berbeda dengan roadmap teknologi sebelumnya.

“5G berbeda. Ada isu IoT (Internet of Things) yang masuk bersamaan critical mission berbagai macam yang butuh low latency. Misalnya mobil tanpa supir. Jadi tidak semata-mata bersinggungan dengan user experience,” ucap Ismail.