Technologue.id, Jakarta – Munculnya fitur Stories di Instagram awal bulan ini melahirkan cukup banyak cibiran yang ditujukan pada platform milik Facebook Inc. itu. Instagram dituding tak lebih dari sekadar jejaring sosial peniru Snapchat. Bahkan, segelintir karyawan Snapchat sempat melemparkan sindiran pada Instagram dan fitur barunya yang tak asing itu.

Terlepas dari predikatnya sebagai medsos yang pertumbuhannya begitu positif dalam beberapa tahun terakhir, Instagram sebenarnya doyan menjadi follower.

Lihat saja sejarahnya. Tak lama setelah diakusisi Facebook, Instagram tiba-tiba mau menampung video dengan durasi lebih panjang. Hal ini ditengarai tak lepas dari pengaruh Vine, medsos khusus video milik Twitter, yang di-launching awal tahun 2013. Dukungan ke video berdurasi lebih panjang itu sendiri dihadirkan pada Juni 2013.

Begitu pula dengan Stories milik Snapchat. Sebenarnya, Mark Zuckerberg sempat ingin mengakuisisi Snapchat tahun 2013, tetapi ditolak mentah-mentah. Alhasil tak berselang lama, Zuck pun mencoba menjegal Snapchat dengan menghadirkan kloningannya, seperti Poke dan Slingshot. Menariknya, usaha ini baru tampak berhasil tiga tahun kemudian, ya dengan Instagram Stories ini.

- Advertisement -

Dari segi bisnis, praktik Instagram ini memang tidak sepenuhnya salah. Sebagai entitas bisnis, apalagi di industri teknologi, perkembangan adalah hal yang mutlak. Stagnansi, yang lekat dengan kurangnya inovasi, bisa mematikan bisnis yang bersangkutan. Di sini, bisa dibilang kalau Instagram sudah melakukan hal yang benar dengan menyediakan Stories, terlepas inovasinya itu menjiplak milik perusahaan lain; apalagi konten video sedang laris-larisnya belakangan ini salah satunya berkat Snapchat.

 

Baca juga:

JANGAN MACAM-MACAM DENGAN BOS FACEBOOK!

DI-UPDATE, FITUR TRENDING FACEBOOK MIRIP PUNYA TWITTER

SEKALI MENYUMBANG, BOS FACEBOOK KELUARKAN RP 1,25 TRILIUN