Technologue.id, Jakarta – Sudah tahu kalau Instagram punya fitur baru bernama Stories? Dengan fitur itu, kini Anda bisa mengunggah foto atau video singkat yang akan hilang setelah 24 jam, plus membubuhinya dengan teks atau coretan gambar tertentu. Asyiknya lagi, konten Stories tidak ditampilkan di timeline utama Instagram, tetapi bisa diakses dengan membuka notifikasi di bagian atas layar.

Familiar dengan fitur itu? Tak cuma Anda, banyak yang menyadari kalau fitur itu sangat mirip dengan fitur yang biasa ditemui di Snapchat. Bahkan, dari nama saja sudah sama persis!

Instagram Stories (source: Instagram)
Instagram Stories (source: Instagram)

Redaksi yakin, ini bukanlah sebuah kebetulan. Alasannya sepele, Mark Zuckerberg, CEO Facebook Inc., perusahaan yang juga membawahi Instagram, pernah berniat untuk membeli Snapchat tahun 2013 silam. Sayang, tawaran senilai Rp 40 triliun dari perusahaan media sosial terbesar sejagat itu ditolak mentah-mentah.

Sejak saat itu, Zuck telah melancarkan beragam cara untuk menjegal platform buatan Evan Spiegel, Bobby Murphy, dan Reggie Brown itu, mulai dari meluncurkan kloning Snapchat bernama Poke tahun 2012 dan Slingshot dua tahun berselang. Kendati dua produk itu gagal dan Snapchat tetap bisa melenggang, tetapi fitur Stories di Instagram tahun ini berpotensi menjadi ancaman besar bagi Evan Spiegel cs. Kalau tidak ada inovasi hebat lagi, bisa jadi Snapchat kalah bersaing dan ditinggalkan penggunanya.

- Advertisement -

Dari sini, jelas terlihat Zuckerberg adalah pemeluk setia prinsip ‘kalau tidak bisa membeli kompetitor, hancurkan mereka’ yang khas diterapkan oleh para tirani industri teknologi informasi.

Di era 90-an sebelum Zuckerberg dan Facebook digdaya, praktik ini sudah lazim dilakukan oleh Microsoft. Bill Gates, co-founder sekaligus pemimpin Microsoft saat itu, sudah sering membuat produk tandingan untuk menyaingi kompetitornya. Contohnya, saat mereka membuat MSN demi berduel dengan AOL serta meluncurkan MSNBC bersama NBC untuk berkompetisi dengan CNN.

Namun tentu saja, baik Mark Zuckerberg maupun Bill Gates bukan orang yang sepenuhnya jahat. Mereka berdua punya lembaga amal yang dan menggelontorkan banyak uangnya untuk membantu sesama.

Menurut Anda, praktik seperti ini sehat tidak untuk perkembangan industri TI ke depannya?

 

Baca juga:

FACEBOOK KINI TAMPUNG 1,7 MILIAR PENGHUNI BUMI

BERTEKAD BONEK, E-COMMERCE SURABAYA TANTANG LAZADA DAN TOKOPEDIA

TWITTER LUNCURKAN #BLUEROOM, INDONESIA JADI YANG PERTAMA DI ASIA TENGGARA