Jokowi: Bahaya Kalau Media Sosial Sampai Mendikte Anak-anak!

Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo (source: Setkab.go.id)

Technologue.id, Jakarta – Media sosial dan remaja hampir tak dapat dipisahkan. Dengan berbagai kepentingan, mulai dari sekadar berkomunikasi, mencari informasi dengan cepat, atau sekadar eksis, platform itu kerap dimanfaatkan.

Namun di samping manfaatnya, Joko Widodo, presiden RI, mengingatkan pula bahwasannya medsos bagaikan pisau bermata dua yang juga berpotensi berdampak buruk. Inilah yang harus diwanti-wanti, jangan sampai generasi muda Indonesia, utamanya yang berumur di bawah 20 tahun, terbiasa disetir atau dididik oleh media sosial yang memungkinkan terjadinya perubahan yang merusak karakter.

“Hati-hati. Semuanya harus mempersiapkan ini. Perubahan itu sudah tidak bisa kita tolak-tolak lagi tapi bagaimana kita mengisi agar perubahan itu bisa kita kendalikan, bisa kita kontrol, dan bisa kita menangkan dengan mengisi anak-anak kita dengan hal-hal terutama yang berkaitan dengan karakter,” begitu pesan Kepala Negara saat membuka Rapat Koordinasi Pimpinan Nasional (Rakorpimnas) Tahun 2017 Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), di Hotel Sahid Jaya, Sleman, DI Yogyakarta, (22/07/17).

Menurut mantan Walikota Solo itu, seperti dikutip dari rilis pers yang dipublikasikan Sekretariat Kabinet Republik Indonesia (22/07/17), guru punya peran penting dalam menjaga generasi muda dalam koridor yang tepat. Dengan arahan yang baik, medsos sebenarnya bisa dimaksimalkan untuk pendidikan hingga usaha memperkuat karakter yang penuh integritas, kejujuran, hingga akal budi dan pekerti yang baik.

Terkait ini, pemerintah sudah mencoba mengawasi media sosial dan menyelamatkan generasi muda dengan kapasitasnya sendiri. Buktinya belum lama ini, pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) memutuskan untuk memblokir aplikasi chatting Telegram di desktop.

Peristiwa ini sebenarnya sarat akan miskomunikasi antara pihak Kemkominfo dan Telegram. Kemkominfo yang telah mengantongi bukti adanya konten berbau radikalisme menduga ada pembiaran dari platform asal Rusia itu, karena protesnya tak mendapat respons. Namun CEO Telegram mengakui kesalahan dari pihaknya. Mereka pun kemudian bersedia untuk bernegosiasi dengan pemerintah untuk membuat ekosistem Telegram lebih ramah dan jauh dari kesan pendukung oknum radikal.

 

Baca juga:

Menkominfo Maafkan Telegram, Tapi Ada Syaratnya

3 Fakta Pavel Durov Si Pembuat Telegram Messenger, Apa Agamanya?

Kemkominfo: Ancaman Cyber Terkini Bukan Lagi Pornografi!