Kominfo: Proyek Satria Bukti Pembangunan Telekomunikasi Sedang Melesat

- Advertisement -

Technologue.id, Jakarta – PT Satelit Nusantara Tiga (SNT) dan Thales Alenia Space resmi menandatangani perjanjian kerja sama dalam membangun satelit multifungsi Satria pada Kamis (3/9/2020). Penandatanganan ini disaksikan langsung oleh Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G. Plate.


Menurut Menteri Johnny, penandatanganan ini menunjukan bahwa iklim investasi dan pembangunan infrastruktur telekomunikasi Indonesia tidak sedang melambat, namun justru semakin melesat. Ia juga menyebut adanya tahapan ini dapat mendorong pemulihan ekonomi di Indonesia.

Baca Juga:

Pemerintah Dorong Pengembangan Telemedis untuk Akselerasi Transformasi Digital


“Meskipun di tengah pandemi Covid-19, investasi di sektor telekomunikasi Indonesia terus meningkat. Momentum ini menandai harapan kebangkitan ekonomi digital dan hadirnya layanan publik yang prima bagi seluruh masyarakat melalui infrastruktur telekomunikasi yang memadai dan berkualitas,” ujarnya.


Lebih lanjut, Johhny menyebut proyek ini memiliki potensi yang besar dari pertumbuhan ekonomi digital apalagi pada masa pandemi COVID-19. Dimana sektor komunikasi dan informasi mengalami pertumbuhan hingga 10,88 persen selama pandemi dan menjadi satu-satunya sektor yang bertumbuh positif hingga di atas 10 persen dibanding sektor lain.

Baca Juga:

Serangan Siber Meningkat, Staff Ahli Kominfo Ingatkan Agar Selalu Waspada


Untuk diketahui, dalam penandatanganan ini terdapat dua kegiatan pokok. Yang pertama melakukan tinjauan kebutuhan muatan sistem satelit yang merupakan penyesuaian desain satelit dengan permintaan pengguna, dan yang kedua melakukan tinjauan status kualifikasi komponen yang merupakan tinjauan kualifikasi komponen-komponen satelit yang dipersyaratkan.


Adapun nilai dari kerja sama satelit Satria ini sebesar US$ 550 juta atau setara Rp 8 triliun. Direktur Utama SNT Adi Rahman Adiwoso menyebut proyek ini dapat membantu membantu pemerataan akses jaringan komunikasi dan internet broadband di seluruh Indonesia. Dimana saat ini Indonesia masih memiliki 150 ribu titik yang tidak dapat akses internet cepat.

- Advertisement -

Latest News

Related Stories