Technologue.id, Jakarta – Belakangan, pemerintah kota dan daerah di Indonesia tampak termotivasi untuk mengimplementasikan konsep smart city di wilayahnya masing-masing. Penerapannya pun beragam, mulai dari menyediakan layanan terintegrasi berbasis online hingga aplikasi penerima keluhan warga seperti yang dijajakan oleh Qlue.

Akan tetapi, ada satu gagasan dari Saahil Parekh yang nampaknya terlupakan. Pria yang menjabat sebagai co-founder Khetify, organisasi yang mempromosikan urban farming di India, itu mengungkapkan pentingnya smart food di tengah penerapan smart city. Khetify, misalnya, mencoba menyediakan solusi berupa lahan tanam indoor multi-level yang didukung teknologi tertentu untuk menumbuhkembangkan sayur dan buah yang sesuai dengan kebutuhan rumahan.

“Kita tak lagi peduli di mana buah dan sayuran yang kita makan berasal, bagaimana cara mengidentifikasi yang baik atau buruk, serta seberapa banyak nutrisi yang dikandungnya,” terang Saahil seperti dikutip dari ReadWrite (8/6/16).

Untuk itu, di era modern ini sudah saatnya pengembangan urban farming digalakkan. Bahkan jika memungkinkan, pemerintah bisa mendukung urban agriculture untuk memfasilitasi pola hidup sehat warganya sekaligus menefisiensikan energi yang dipakai dalam bercocok tanam. Tujuan yang sebenarnya juga terkandung dalam penerapan kota pintar, bukan?