Technologue.id, Jakarta – Apple tengah jadi sorotan belakangan. Pasalnya, perusahaan yang dinakhodai Tim Cook itu resmi menarik aplikasi “spesial” di App Store mereka di Tiongkok, yakni VPN. Aturan ini pun disambut pertentangan dari beberapa pihak dan menilai bahwa Apple telah memundurkan kebebasan manusia untuk menggunakan internet.

Sebenarnya, Apple hanya “boneka”. “Dalang”-nya sendiri adalah pemerintah Tiongkok. Sedari awal tahun ini, Negeri Tirai Bambu itu sudah menyatakan kalau penggunaan VPN adalah ilegal. Banyak yang menduga, patuhnya raksasa Cupertino itu adalah bentuk upaya mereka supaya bisnisnya di China mulus.

Apple makin tersudut ketika keputusannya yang lunak terhadap pemerintah Tiongkok ini dikaitkan dengan kegetolan mereka melawan pemerintah Amerika Serikat. Ya, tahun lalu, FBI meminta agar Apple memberikan akses backdoor ke iPhone salah seorang pelaku terorisme di San Bernardino. Namun, Cook dengan tegas menolaknya dan bersikukuh tak ingin memberikan akses tersebut untuk melindungi penggunanya.

Apakah sikap Apple ini termasuk double-standard? Menurut sang CEO sih tidak.

Dari pandangan pimpinan Apple itu, dua kasus ini tidak “apple to apple”. Keputusan pihaknya untuk melarang peredaran VPN di App Store Tiongkok hanyalah penerapan regulasi yang mengharuskan operator VPN memiliki lisensi langsung dari pemerintah setempat. Faktanya, App Store masih menawarakn ratusan aplikasi VPN karya developer di luar China.

Cook merespons, “Kasus di AS, aturan di sini sebenarnya mendukung kami. Jelas itu. Di Tiongkok aturannya juga sangat jelas. Kalau hukum di AS berubah, kami pasti akan mematuhinya.”

Dari perspektif Anda, apakah suksesor Steve Jobs itu melakukan hal yang benar?

 

Baca juga:

Apple Hapus Aplikasi VPN di App Store-nya, Ada Apa?

Apple Siapkan Penerus iPhone SE?

Bersama Apple, Foxconn Ikut Ajukan Tuntutan Hukum Kepada Qualcomm