Technologue.id, Jakarta – Di momen gerhana matahari total di Amerika Serikat, Senin (21/08/17), Google mencoba memeriahkan suasana dengan caranya sendiri. Penguasa internet itu merilis versi termutakhir sistem operasi mobile buatannya, Android 8.0 dengan codename Oreo. Jelas, aktivitas rutin tahunan ini bertujuan untuk memperbarui dan memperkuat OS yang mereka rilis sebelumnya, atau dalam kasus ini Android Nougat.

Namun, kemungkinan besar adopsi ke Android Oreo belum akan masif. Pasalnya, mayoritas lebih dari 2 miliar perangkat Android yang beredar sekarang saja belum sempat mencicipi versi 7.0 alias Nougat.

Baca juga:

Google Resmikan Android Oreo, Bagaimana Fiturnya? Kapan Anda Bisa Install?

Berdasarkan grafis dari Statista yang dicuplik dari data Android Developers, pengguna Android cenderung kurang tertarik untuk bermigrasi ke OS terbaru secara langsung. Alih-alih, mereka atau mungkin sebagian dari Anda memilih untuk berpindah OS secara bertahap.

Fenomena semacam inilah yang membuat pangsa pasar Android Nougat di bulan Agustus ini masih 13,5 persen. Jangankan dibandingkan dengan Marshmallow sebagai OS Android terpopuler sejagat saat ini dengan 32,3 persen, melawan KitKat yang dirilis empat tahun saja Nougat masih kalah.

Baca juga:

Sama-sama Berbaterai Jumbo, Ini 3 Musuh Infinix Note 4 di Indonesia

Yang tak kalah menarik, pengguna Ice Cream Sandwich dan Gingerbread yang ternyata pun masih ada, walaupun populasi mereka sangat minoritas.

Mengapa Anda Harus Tunggu Lama untuk Update ke Android Terbaru?
Pangsa pasar Android bulan Agustus 2017 (source: Statista)

Baca juga:

Siap-siap Indonesia! Asisten Virtual Samsung Mulai Dirilis Global

Memang, keterlambatan adopsi OS teranyar Android ini bukan semata-mata salah Google. Menurut BusinessInsider (22/08/17), vendor smartphone hingga operator telekomunikasi yang kerap berperan sebagai “promotor” gadget baru juga mempengaruhi lambatnya adopsi sistem terbaru Android. Pasalnya, sebelum user bisa meng-install versi terbaru Android di gadget-nya, update tersebut harus disetujui oleh manufacturer gadget tersebut dan wireless carrier terkait.

Belum lagi masih banyaknya ponsel berspesifikasi menengah ke bawah yang beredar. Karena spesifikasi smartphone tak kompatibel, sebagian pengguna Android jelas tak punya opsi lain selain bertahan dengan gadget yang kemungkinan bersistem operasi lawas itu.