Technologue.id, Jakarta – NASA bekerja sama dengan IBM meluncurkan NASA-IBM Lunar Foundation Model, sistem kecerdasan buatan (AI) sumber terbuka yang dirancang untuk membantu ilmuwan mempelajari permukaan Bulan.
Model AI tersebut diluncurkan setelah misi Artemis II NASA berhasil melakukan penerbangan lintas terbang berawak di sekitar Bulan. Empat astronaut, yakni Reid Wiseman, Christina Koch, Victor Glover, dan Jeremy Hansen, menjadi manusia yang melakukan perjalanan lebih jauh dari Bumi dibandingkan manusia sebelumnya.
NASA dan IBM menguji kemampuan model AI tersebut untuk berbagai kebutuhan analisis permukaan Bulan. Salah satunya adalah mengidentifikasi wilayah yang kemungkinan mengandung es.
Dalam pengujian, model NASA-IBM mampu mengurangi tingkat kesalahan sebesar 23 persen dibandingkan SwinV2-B, model visi komputer besutan Microsoft yang digunakan sebagai pembanding.
Model tersebut juga diuji untuk mendeteksi dan mengklasifikasikan kawah. Hasilnya, NASA-IBM mencatat kinerja 19 persen lebih baik, meski hanya menggunakan setengah dari data pelatihan yang digunakan model pembanding.
Kemampuan tersebut juga diuji ketika terjadi benturan roket SpaceX Falcon 9 di permukaan Bulan pada 5 Agustus. Model AI berhasil mengenali lokasi benturan sebagai kawah baru, meski berada sangat dekat dengan kawah yang sudah ada.
Pengembangan model ini bukan tanpa tantangan. Permukaan Bulan memiliki bayangan yang sangat gelap dan tajam karena tidak memiliki atmosfer seperti Bumi. Kondisi tersebut membuat satu kawah dapat terlihat berbeda dalam setiap gambar.
Untuk mengatasi masalah itu, tim peneliti membagi wilayah Bulan menjadi beberapa bagian berbentuk irisan dan memisahkan data untuk pelatihan serta pengujian.
NASA dan IBM juga membuka dataset yang digunakan untuk mengembangkan model tersebut. Dataset ini berisi puluhan ribu gambar dan data instrumen dari sejumlah misi, termasuk Lunar Reconnaissance Orbiter (LRO), GRAIL, dan misi Jepang SELENE.