Jakarta — Technologue.id melaporkan, NASA terus mematangkan strategi eksplorasi bulan jangka panjangnya melalui misi CAPSTONE 02 yang akan segera diluncurkan. Misi ini akan menerbangkan dua wahana antariksa yang dapat bermanuver untuk melakukan serangkaian uji gravitasi, penerbangan, dan navigasi kritis di ruang sislunar, yakni wilayah antara Bumi dan Bulan.

Inisiatif ini menjadi langkah teknis penting menuju pembangunan pangkalan permanen di Bulan, perluasan infrastruktur antariksa komersial, serta dukungan operasi eksplorasi antariksa dalam di masa depan. Seluruh rangkaian misi tersebut merupakan bagian integral dari program Artemis yang digagas badan antariksa Amerika Serikat itu.

Tujuan utama CAPSTONE 02 adalah mengevaluasi bagaimana gaya gravitasi kompleks di dekat Bulan memengaruhi wahana antariksa yang terbang dalam formasi rapat. Kedua wahana harus menavigasi orbit tiga benda yang rumit, karena wilayah operasinya dipengaruhi oleh tarikan gravitasi gabungan Bumi dan Bulan secara bersamaan.

Kedua wahana tersebut diproduksi oleh Terran Orbital Systems dan akan bergantian berperan sebagai wahana pemimpin dan pengejar sepanjang misi. Pengaturan peran yang dinamis ini dirancang untuk menguji berbagai skenario penerbangan formasi yang akan menjadi fondasi operasi antariksa masa depan.

Selama uji terbang bersama, kedua wahana akan mengevaluasi teknik navigasi selestial, sensor pelacakan optik, integrasi data teleskop berbasis darat, serta sistem komunikasi antarwahana secara langsung. Seluruh teknologi ini merupakan komponen kunci untuk memastikan keamanan dan presisi navigasi di lingkungan gravitasi Bulan.

Manajer misi Sean Fuller menegaskan bahwa CAPSTONE 02 merupakan langkah vital dalam mematangkan kemampuan operasional di ruang sislunar. Menurutnya, sistem kendali penerbangan dan docking yang diuji sangat mirip dengan arsitektur navigasi yang dibutuhkan untuk menghubungkan wahana Orion dengan modul pendarat di permukaan Bulan.

NASA berencana menerapkan teknik penerbangan ini selama misi Artemis III yang bertujuan melakukan rendezvous orbital antara Orion, pendarat Blue Moon milik Blue Origin, dan Starship milik SpaceX. Ketiga wahana tersebut akan bertemu di orbit bulan sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan menuju permukaan Bulan.

Badan antariksa tersebut mencatat bahwa dinamika penerbangan antariksa yang spesifik ini tidak dapat sepenuhnya direplikasi dalam lingkungan pengujian berbasis darat. Oleh karena itu, verifikasi orbital secara langsung menjadi keharusan sebelum mengirim kru manusia dari orbit sislunar turun ke permukaan Bulan.

CAPSTONE 02 dibangun di atas misi CAPSTONE orisinal yang diluncurkan pada 2022 lalu. Wahana antariksa pertama yang berukuran sebesar microwave itu berhasil menyelesaikan siklus operasional selama empat tahun yang berakhir pada Juni 2026, sekaligus menjadi satelit pertama yang menavigasi orbit halo hampir rektilinear.

Dengan memajukan uji pendahuluan tersebut menjadi penerbangan formasi multi-wahana, CAPSTONE 02 bertujuan memperkuat kemampuan navigasi bulan yang esensial. Misi ini juga menjadi fondasi bagi operasi antariksa yang lebih kompleks di masa depan, termasuk pendaratan berawak di permukaan Bulan.

Keberhasilan misi ini akan membuka jalan bagi pengembangan infrastruktur antariksa komersial yang lebih luas di sekitar Bulan. Hal ini sejalan dengan perkembangan teknologi antariksa yang semakin pesat dalam beberapa tahun terakhir.

NASA juga terus melakukan penyesuaian jadwal dan persiapan teknis untuk memastikan kelancaran seluruh rangkaian misi Artemis. Sebelumnya, penundaan peluncuran misi sempat terjadi karena berbagai pertimbangan teknis dan keselamatan.

Keberhasilan CAPSTONE 02 akan menjadi tonggak penting sebelum misi berawak berikutnya, termasuk eksplorasi sisi jauh Bulan yang telah dilakukan para astronot. Seluruh hasil uji dari misi ini akan menjadi data berharga bagi perencanaan misi Artemis III dan seterusnya.

Dengan seluruh persiapan yang matang, CAPSTONE 02 diharapkan mampu memberikan kontribusi signifikan bagi visi jangka panjang eksplorasi antariksa manusia. Misi ini menjadi bukti nyata komitmen NASA dalam membangun kehadiran manusia yang berkelanjutan di Bulan dan sekitarnya.