Contact Information

Alamat: Komplek Rumah Susun Petamburan Blok 1 Lantai Dasar, Tanah Abang - Jakpus 10260

We're Available 24/ 7. Call Now.
Pakar Keamanan Siber Ungkap Fakta di Balik Isu Backdoor WhatsApp
SHARE:

Technologue.id - WhatsApp saat ini mendominasi pasar pesan instan global dengan jumlah pengguna aktif mencapai lebih dari 3 miliar orang di seluruh dunia. Namun, popularitas masif ini memunculkan perdebatan serius mengenai privasi data pengguna di tengah berbagai tuduhan hukum yang dialamatkan kepada Meta.

Sejumlah pakar keamanan siber, termasuk Matthew Green dari Universitas Johns Hopkins, memberikan pandangan mendalam mengenai isu keamanan platform tersebut. Green menyoroti bahwa alasan utama untuk berpindah aplikasi sebenarnya bukan karena teori konspirasi, melainkan fakta teknis yang mendasar.

Baru-baru ini, sebuah gugatan class-action menuduh Meta telah melakukan penipuan terhadap pengguna sejak tahun 2016 dengan mengakses percakapan terenkripsi secara diam-diam. Tuduhan ini menyebutkan adanya "pintu belakang" atau backdoor yang memungkinkan perusahaan membaca pesan pribadi pengguna tanpa izin.

Menanggapi hal tersebut, Green menilai klaim mengenai akses rahasia Meta terhadap pesan pengguna sangat tidak mungkin terjadi secara teknis. WhatsApp menggunakan Protokol Signal untuk enkripsi end-to-end (E2EE), di mana proses pengacakan pesan terjadi langsung pada perangkat fisik pengguna.

Jika Meta benar-benar ingin membaca pesan secara diam-diam, mereka harus menanamkan celah keamanan pada kode aplikasi secara sengaja. Hal ini tentu akan sangat mudah dideteksi oleh peneliti keamanan mana pun yang melakukan proses reverse engineering pada aplikasi tersebut.

Green menegaskan bahwa mempertahankan kebohongan sebesar itu selama hampir satu dekade merupakan tindakan yang sangat bodoh bagi perusahaan teknologi raksasa. Komunitas keamanan siber global selalu melakukan pengawasan ketat terhadap sistem keamanan yang diterapkan oleh platform pesan instan populer.

Meski teori backdoor terbantahkan, Green memperingatkan bahwa ancaman privasi yang sebenarnya justru terletak pada metadata yang dikumpulkan oleh perusahaan. Masalah utamanya bukan pada isi pesan yang dibaca, melainkan informasi seputar pengiriman pesan yang diketahui oleh Meta.

WhatsApp secara aktif mengumpulkan metadata ekstensif yang mencakup social graphing atau pemetaan hubungan sosial antar pengguna di dalam platform. Data ini meliputi siapa saja yang Anda hubungi, seberapa sering interaksi terjadi, dan durasi percakapan yang dilakukan sehari-hari.

Selain itu, celah keamanan juga sering ditemukan pada sistem pencadangan pesan yang tersimpan di layanan penyimpanan awan atau cloud. Tanpa konfigurasi khusus, cadangan obrolan di iCloud atau Google Drive sering kali tidak memiliki proteksi E2EE yang setara dengan pesan aslinya.

Pengguna yang peduli privasi disarankan untuk mengaktifkan fitur perlindungan data tingkat lanjut guna meminimalisir risiko kebocoran data cadangan. Langkah ini penting mengingat Meta terus berupaya perketat keamanan demi menjaga kepercayaan miliaran penggunanya di seluruh dunia.

Kelemahan lain yang disoroti adalah status WhatsApp sebagai aplikasi dengan kode sumber tertutup atau closed-source yang dimiliki oleh korporasi. Pengguna terpaksa harus mempercayai klaim Meta bahwa aplikasi mereka bekerja sesuai dengan apa yang diiklankan tanpa bisa memverifikasinya secara langsung.

Bagi mereka yang menginginkan keamanan terverifikasi, para ahli lebih menyarankan penggunaan aplikasi Signal sebagai alternatif yang lebih transparan. Sebagai platform nirlaba dan open-source, seluruh kode dasar Signal tersedia untuk diaudit oleh publik kapan saja.

Berbeda signifikan dengan WhatsApp, Signal dirancang untuk menyimpan metadata dalam jumlah yang hampir nol atau sangat minim. Aplikasi ini bahkan tidak mengetahui siapa lawan bicara Anda, memberikan tingkat privasi yang jauh lebih tinggi daripada kompetitornya.

Namun, transisi pengguna ke aplikasi yang lebih aman sering kali terhambat oleh efek jaringan yang sudah terbentuk kuat. Signal hanya memiliki sekitar 40 juta pengguna, jumlah yang sangat kecil jika dibandingkan dengan basis pengguna WhatsApp yang masif.

Pada akhirnya, pengguna dihadapkan pada pilihan sulit antara kenyamanan komunikasi global atau transparansi data yang lebih terjamin. Meta sebagai raksasa berbasis data tampaknya sulit untuk memberikan tingkat transparansi yang setara dengan platform nirlaba seperti Signal.

SHARE:

Cari Portable Monitor Tipis untuk Kerja? Coba Lirik Aopen 16PD3Q!

Fitur-fitur Terbaru dalam Update Xiaomi HyperOS 3