Palo Alto Networks Ungkap 4 Prediksi Keamanan Siber di Tahun 2021

- Advertisement -

Technologue.id, Jakarta – 2020 menjadi tahun yang menentukan sekaligus ujian yang sesungguhnya bagi ketahanan digital kolektif. Menimbang bahwa dampak COVID-19 kemungkinan masih akan dirasakan selama beberapa tahun ke depan, bisnis harus mengkaji kembali strategi mereka untuk menavigasi kenormalan baru dalam jangka waktu yang panjang. Dengan meningkatnya ketergantungan kita pada teknologi, seberapa berhasilkah bisnis mengamankan masa depan digital mereka untuk tahun 2021?

Prediksi ke-1

Sudah rindu melancong? Akan makin banyak data pribadi tersebar.

Kebijakan travel bubble dan green lane pasca pandemi akan memicu perdebatan mengenai privasi data

  • Meskipun perihal privasi data akan terus menjadi perdebatan, terlebih selama ini muncul kekhawatiran pelanggaran penggunaan data pribadi oleh perusahaan-perusahaan besar dan bagaimana perusahaan-perusahaan terkendala dalam memenuhi standar kelaikan yang diterapkan dalam aturan GDPR, upaya pelacakan kontak yang dilakukan menyadarkan konsumen tentang siapa saja yang punya akses ke data pribadi mereka.
  • Pelacakan kontak yang ketat yang diinisiasi oleh pemerintah serta akses ke data yang akurat merupakan faktor kunci yang telah membantu ‘melandaikan kurva’ di banyak negara di kawasan Asia Timur. Namun, dengan bertambahnya jumlah infeksi dan gelombang-gelombang baru di banyak negara, riset dari Future Market Insights memprediksi bahwa aplikasi contact tracing akan diluncurkan dengan tingkat 15 persen setiap tahunnya.
  • Selain dari sektor dan layanan publik, inisiatif yang digalang oleh sektor swasta juga mendukung upaya-upaya serupa. Sistem Apple-Google Exposure Notification, yang bahkan mulai digunakan oleh sejumlah negara, merupakan salah satu solusi yang patut diperhitungkan sekarang.

Sampai kapan seluruh aspek kehidupan akan dapat kembali berjalan normal?

  • Pertanyaan yang saat ini ada di benak setiap orang adalah seberapa cepat kita bisa kembali ke situasi normal. Selain itu, salah satu hal yang paling banyak diinginkan oleh semua orang di seluruh dunia adalah keinginan untuk bisa jalan-jalan.
  • Makin banyak negara yang menerapkan kebijakan travel bubble dan reciprocal green lanes untuk menggairahkan kembali sektor pariwisata dan perhotelan. Namun, agar pengaturan tersebut menjadi efisien dan aman bagi wisatawan, data pribadi perlu dibagikan melintasi batas negara disertai dengan kontrol keamanan yang tepat dan komunikasi transparan tentang pengelolaan dan penyimpanan data tersebut.
  • Adanya kebutuhan krusial akan pergerakan data antara pihak pemerintah, maskapai penerbangan, bandara, dan hotel akan menjadikan perdebatan mengenai bagaimana data disimpan, diakses dan digunakan makin mengemuka di tahun 2021. Ini terutama disebabkan karena makin banyak individu yang kian peduli tentang keamanan data pribadi yang mereka bagikan ke pihak lain.
  • Namun kali ini, data-data yang diperoleh dari rapid test serta pemantauan dan pengecekan secara konstan – berlaku untuk semua orang, bahkan yang patuh terhadap peraturan sekalipun – akan membuat wisatawan berpikir dua kali tentang informasi yang akan mereka berikan kepada pihak lain ketika kegiatan berlibur kembali berlangsung.

Prediksi ke-2

Sejauh mana kesiapan menyambut kehadiran 5G?

Sektor swasta akan mengambil alih peran sektor publik sebagai garda depan dalam melawan pandemi COVID-19.

  • Jaringan 5G mulai diperkenalkan di kawasan ini. iPhone 12 diperkirakan untuk pertama kalinya akan menjadi perangkat berkemampuan 5G yang akan banyak diadopsi.
  • Hal tersebut pastinya akan mengakselerasi peluncuran jaringan secara besar-besaran di banyak negara karena industri telekomunikasi akan berupaya untuk menggelar berbagai layanan baru untuk pelanggan dan pemerintah akan memanfaatkan peluang-peluang digital untuk pemulihan ekonomi pada tahun 2021. Namun demikian, masih perlu waktu sebelum pengguna dapat benar-benar merasakan manfaat dari peningkatan kecepatan secara eksponensial dan latensi rendah yang dijanjikan oleh 5G.
  • Sementara itu, pengadopsian jaringan 5G dari swasta oleh perusahaan mengalami peningkatan pesat. Deloitte memprediksi bahwa sepertiga dari pasar jaringan 5G yang dihadirkan pihak swasta pada kurun 2020 – 2025, jika diukur dari tingkat belanja dalam dolar, akan datang dari sektor-sektor yang ditengarai akan menjadi pengadopsi pertama, seperti sektor pelabuhan, bandara, dan pusat-pusat logistik lainnya.
  • Dalam survei yang dilakukan oleh Ciena, 31 persen responden dari kalangan perusahaan di Singapura, Indonesia, Filipina, dan Jepang sepakat bahwa manfaat terbesar 5G adalah dalam kapabilitasnya dalam mendorong terwujudnya transformasi digital serta berbagai aplikasi digital.

Beberapa hal yang perlu dihindari ketika 5G sudah diluncurkan nanti

  • Di JAPAC, sebagian besar pemerintah menjadi kunci yang mendorong 5G diluncurkan. Misalnya, pemerintah Australia telah menjanjikan investasi sebesar hampir AU$30 juta untuk uji coba 5G di sejumlah sektor, seperti agrikultur, pertambangan, dan logistik. Sementara di Bangkok, rumah sakit mulai menggunakan 5G untuk meningkatkan perawatan pasien dan efisiensi operasional.
  • Namun, dengan mereka saat ini tengah disibukkan menangani COVID-19 dan upaya pemulihan ekonomi, sektor swasta siap untuk mengambil alih kesiapan menuju 5G.
  • Hal ini perlu menjadi perhatian bagi kalangan perusahaan di tahun 2021 nanti. Namun ini tidaklah mudah. Banyak node yang perlu diinstal. Hal ini membuat penerapan 5G jauh lebih menantang dan mengakibatkan meningkatnya potensi serangan siber.
  • Pihak swasta sebagai pemilik infrastruktur tidak bisa menggunakan pendekatan serupa dalam mendesain dan menggelar jaringan 5G, agar mereka jangan sampai menjadi korban jenis serangan yang sama seperti yang terjadi ketika menggelar 3G dan 4G.

Prediksi ke-3

Bekerja dari rumah berubah menjadi makin cerdas dan aman

Keamanan akan makin dioptimalkan dan menjadi semakin sederhana

  • Dalam hitungan minggu, transformasi digital akan berubah, dari sekadar ujaran yang diulang-ulang terus, menjadi sebuah kebutuhan untuk terus ‘beradaptasi agar mampu tetap bertahan’. Solusi kerja jarak jauh makin gencar diterapkan oleh perusahaan-perusahaan di masa pembatasan sosial ini.
  • Sayangnya, banyak dari solusi ini mengandalkan teknologi lama seperti koneksi VPN yang tidak stabil, alat token fisik, dan gembok digital yang berbasis pada teknologi yang memang tidak dirancang mampu mendukung konektivitas secara simultan. Beberapa di antaranya bahkan hanya menjadi solusi sementara dan bahkan dianggap terlalu kompleks bagi sejumlah karyawan yang tidak paham akan dampak yang diakibatkannya terhadap keamanan siber.
  • Tetapi jika ada satu saja pembelajaran yang dapat dipetik dari tahun 2020, kerja jarak jauh dalam skala seluas perusahaan memungkinkan untuk diterapkan. Tahun 2021 menjadi tahun di mana semua fokus akan tertuju pada manusia itu sendiri. Tahun yang menawarkan beragam peluang baru bagi bisnis agar terus bertumbuh dan mendukung karyawan menuntaskan tugas-tugas dalam keseharian.

Komputasi cloud makin jelas terasa manfaatnya

  • Seiring meningkatnya adopsi tools berbasis cloud, kebutuhan akan perangkat-perangkat yang mahal dengan daya komputasi yang lebih besar pun makin berkurang. Keberadaan Dekstop tervirtualisasi menjadi solusi yang makin populer.
  • Perusahaan-perusahaan dapat menyediakan perangkat-perangkat yang terkoneksi dan lebih simple yang hanya memungkinkan karyawan dapat mengakses program dan sumber daya yang mereka butuhkan secara daring, dan menerima penugasan atau pekerjaan secara langsung, sehingga aset vital perusahaan akan terproteksi.
  • Mendesain ulang secara total cara karyawan terhubung dapat memangkas komplikasi keamanan siber yang terkait dengan kebijakan Bring Your Own Computer (BYOC) yang sekarang telah menjadi kelaziman, sembari meningkatkan efisiensi dan efektivitas segmentasi jaringan.
  • Keamanan nantinya perlu dihantarkan melalui edge, yang akan menjadikan solusi seperti secure access service edge (SASE) menjadi norma keamanan siber baru berkat fleksibilitas, kesederhanaan dan visibilitasnya.

Prediksi ke-4

Tahun di mana semua pihak perlu menata kembali lingkungan mereka

Belum saatnya memikirkan strategi yang muluk-muluk, karena tim IT sendiri justru perlu meninjau kembali ke bagian-bagian yang mendasar dalam bangunan keamanan mereka.

  • Terjadinya perpindahan ke cloud secara besar-besaran, bukan lagi ditujukan sekadar untuk mendukung tugas-tugas mendasar, seperti email. Makin banyak kegiatan yang divirtualisasikan pada tahun 2021. Hal ini mendorong perusahaan untuk meninjau kembali sistem keamanan di lingkungan cloud yang tengah mereka gunakan.
  • Meskipun kontrol keamanan jaringan tetap menjadi komponen penting dalam mendukung keamanan cloud, namun perusahaan perlu memperkuatnya dengan lapis tambahan, terutama di lingkup pengelolaan identitas dan manajemen akses (IAM) seiring meningkatnya skalabilitas pada penggunaan cloud di perusahaan.
  • Tahun ini, para peneliti Palo Alto Networks Unit 42 mengamati bahwa satu kesalahan konfigurasi IAM dapat memungkinkan penyerang menyusup hingga ke seluruh lingkungan cloud dan menembus hampir ke semua kontrol keamanan.
  • Kesalahan dalam konfigurasi identitas ini ditemukan di banyak akun cloud, yang menunjukkan adanya risiko keamanan yang tidak kecil bagi organisasi, bahkan berpotensi mempengaruhi seluruh lingkungan dalam waktu singkat.

Mengurai kekeliruan dalam penetapan konfigurasi

  • Di saat pandemi ini, tim TI lebih banyak disibukkan untuk mengurusi masalah-masalah fundamental, di tahun 2021 kemungkinan akan makin banyak bisnis yang fokus untuk menata kembali dan menyempurnakan fondasi yang telah mereka bangun selama ini, serta lebih fokus hanya pada hal-hal krusial.
  • Tim dan peran yang berhubungan erat dengan keamanan siber tengah mengalami perombakan dan pembenahan secara internal guna membangun lingkungan cloud yang lebih tangguh.
  • Pada 2019, Bain & Company dan Facebook memperkirakan 310 juta orang di Asia Tenggara akan berbelanja secara online pada 2025. Angka prediksi ini sepertinya akan benar-benar tercapai pada akhir 2020, akibat COVID-19. Kebutuhan perusahaan serta seluruh sektor industri untuk sesegera mungkin melakukan migrasi aplikasi dan data ke cloud, mendorong diterapkannya automasi pada bagian-bagian tersebut, terlebih dengan makin tingginya kompleksitas lingkungan hybrid multi-cloud.
  • Tim keamanan perlu bekerja lebih cepat dan mampu beradaptasi dengan kecepatan yang dihadirkan oleh cloud. Namun, apabila mereka lambat mengantisipasi hal ini di 2021, jumlah kerentanan yang muncul dikhawatirkan akan jauh lebih banyak dari apa yang mereka perkirakan.

- Advertisement -

Latest News

Intip Spek dan Harga Redmi Note 10S Sebelum Meluncur

Technologue.id, Jakarta - Redmi Note 10S dipastikan meluncur di Indonesia pada 18 Mei 2021 besok. Smartphone ini hadir melengkapi jajaran Redmi Note...

Pahami Syarat Transaksi COD di Masing-masing E-commerce

Technologue.id, Jakarta - Metode pembayaran tunai di tempat atau biasa disingkat COD tengah menjadi sorotan lantaran ada kasus konsumen yang enggan membayar...

5 E-commerce yang Sediakan Pembayaran COD

Technologue.id, Jakarta - Selain bank transfer, salah satu metode pembayaran yang masih diminati oleh konsumen e-commerce adalah bayar di tempat alias COD.

BTS dan BlackPink Beri Selamat Atas Mergernya Gojek – Tokopedia

Technologue.id, Jakarta - Boyband asal Korea Selatan, BTS mengucakan selamat atas mergernya dua raksasa teknologi Gojek dan Tokopedia, Senin (17/5/2021). Ucapan selamat...

Wow, Game Resident Evil Laris 3 Juta Copy dalam 4 Hari

Technologue.id, Jakarta - Game Resident Evil: Village jadi seri terbaik di franchise Resident Evil saat ini. Cuma dalam waktu empat hari saja,...

Related Stories