Contact Information

Alamat: Komplek Rumah Susun Petamburan Blok 1 Lantai Dasar, Tanah Abang - Jakpus 10260

We're Available 24/ 7. Call Now.
Palo Alto Networks Ungkap Tren Ancaman Cyber, PDF Jadi File Terpopuler untuk Sebar Malware
SHARE:

Technologue.id, Jakarta - Palo Alto Networks baru-baru ini menerbitkan Unit 42 Network Threat Trends Research Report volume 2, yang mengidentifikasi tren ancaman malware serta memberikan analisis tren malware yang paling signifikan dan lazim ditemukan di dunia maya.

Dikatakan tingkat eksploitasi kerentanan tidak menunjukkan tanda perlambatan, namun meningkat hampir dua kali lipat dari 147.000 percobaan pada 2021 menjadi 228.000 pada tahun 2022.

Baca Juga:
Sony Umumkan TV hingga Speaker Home Entertainment Terbaru di Indonesia

Beberapa temuan utama dari laporan tersebut meliputi:
● Eksploitasi kerentanan telah meningkat. Terdapat peningkatan hingga 55% dalam upaya eksploitasi kerentanan, rata-rata per pelanggan, dibandingkan tahun 2021.
● PDF jadi jenis file terpopuler untuk mengirimkan malware: PDF adalah jenis lampiran email berbahaya yang utama, 66% pelaku ancaman menggunakannya untuk mengirimkan malware melalui email.
● Penipuan ChatGPT: Antara November 2022–April 2023, Unit 42 mengamati peningkatan sebesar 910% dalam pendaftaran bulanan untuk domain, baik yang bersifat tidak berbahaya maupun berbahaya, yang terkait dengan ChatGPT, dalam upaya untuk meniru ChatGPT.
● Malware yang menargetkan industri dengan teknologi OT semakin meningkat: Jumlah rata-rata serangan malware yang dialami per organisasi di industri manufaktur, utilitas, dan energi meningkat sebesar 238% (antara tahun 2021 dan 2022).
● Malware Linux terus meningkat, menargetkan cloud workload. Diperkirakan 90% instance cloud publik beroperasi dengan Linux. Penyerang mencari peluang baru dalam cloud workload dan perangkat IoT yang beroperasi pada sistem operasi mirip Unix.
● Lalu lintas Cryptominer juga meningkat: Dengan jumlahnya yang terus meningkat hingga berlipat ganda pada 2022, cryptomining terus menjadi area yang menarik bagi pelaku ancaman, dengan 45% organisasi sampel memiliki riwayat pemicu penanda serangan (signature) yang berisi lalu lintas terkait cryptominer.
● Domain yang Baru Didaftarkan: Untuk menghindari deteksi, pelaku ancaman menggunakan domain yang baru didaftarkan, newly registered domain (NRD), untuk phishing, social engineering, dan menyebarkan malware. Pelaku ancaman lebih cenderung menargetkan orang yang mengunjungi situs web dewasa (20,2%) dan situs layanan keuangan (13,9%) dengan NRD.
● Ancaman Pengelakkan akan Terus Berkembang Semakin Kompleks: Penyerang akan menggunakan kembali sebuah program selama cara tersebut menguntungkan, pada akhirnya, diperlukan strategi serangan yang baru dan kompleks. Ketika teknik pengelakkan dasar menjadi populer dan vendor keamanan mulai mendeteksinya, penyerang merespon dengan beralih ke teknik yang lebih canggih.
● Malware Terenkripsi dalam Lalu Lintas akan Terus Meningkat. Sebesar 12,91% lalu lintas malware sudah dienkripsi SSL. Diperkirakan ‘keluarga’ malware yang menggunakan lalu lintas terenkripsi SSL untuk berbaur dengan lalu lintas jaringan yang tidak berbahaya akan terus bertambah.

Dengan berbagai kejahatan siber yang ada organisasi juga harus secara bersamaan tetap waspada terhadap malware yang dirancang untuk mengeksploitasi kerentanan perangkat yang usang sambil secara proaktif mengambil satu langkah lebih maju dari time serangan baru yang canggih.

Baca Juga:
Huawei Luncurkan MateBook D 14 12th Gen dan MateBook D 15 AMD R7

Sean Duca, VP and Regional Chief Security Officer, Palo Alto Networks mengatakan, "Penjahat siber tentunya sedang mencari cara untuk memanfaatkan kerentanan demi agenda jahat mereka. Akan tetapi untuk saat ini, social engineering yang sederhana sudah cukup untuk mengelabui calon korban. Oleh karena itu, organisasi harus memiliki pemahaman holistik mengenai lingkungan keamanan mereka untuk memberikan pengawasan yang komprehensif terhadap jaringan dan memastikan praktik keamanan terbaik dilakukan di setiap tingkat organisasi."

SHARE:

Tonjolkan Galaxy AI, Duo Lipat Galaxy Z Fold6 dan Z Flip6 Resmi Meluncur di Indonesia

Bukan Sony, Apple Tunjuk Supplier Lain Garap Sensor Kamera iPhone 18