Peningkatan Aplikasi Seluler Picu Kebocoran Data

- Advertisement -

Technologue.id, Jakarta – Penggunaan aplikasi seluler yang marak akibat pandemi Covid-19 menimbulkan resiko kejahatan siber.

Seperti diketahui, warga diharapkan untuk mengandalkan aplikasi seluler yang merekam status vaksinasi mereka. Sebagian besar tempat umum, termasuk kantor, stasiun kereta api, dan pusat perbelanjaan mengharuskan warga untuk menunjukkan status vaksinasi mereka pada aplikasi saat masuk.

Keharusan menunjukan status vaksinasi saja sudah menjadi tantangan bagi banyak orang karena terjadi banyak kesalahan atau ketidakmampuan ponsel mereka, namun kini muncul masalah lain yaitu: Data lebih dari satu juta pengguna aplikasi pemantauan vaksin resmi telah bocor.

Surung Sinamo, Country Manager F5 Indonesia, mengatakan bahwa penetrasi digital yang sangat tinggi di Indonesia menyebabkan semakin seringnya terjadi kebocoran data.

Dia juga mengatakan bahwa peningkatan kapasitas dan menguatkan keamanan siber lebih lanjut diperlukan oleh mereka yang mengelola data agar dapat mengimbangi dengan penetrasi digital yang tinggi.

Baca Juga:
Sektor Keuangan Jadi Target Serangan Siber Potensial

Dengan Cyber Attack yang dapat menyebabkan kerugian miliaran dolar, kini taruhan menjadi lebih tinggi bagi pemerintah untuk meningkatkan kemampuan pertahanan siber mereka.

Untuk Indonesia, memperkuat pendidikan tentang keamanan siber masuk dalam agenda, diikuti dengan inisiatif pengembangan kapasitas untuk meningkatkan kesadaran keamanan siber dan mengatasi kekhawatiran tentang kebocoran dan pelanggaran data.

“Semua upaya ini ditujukan untuk mencapai infrastruktur keamanan siber yang lebih tangguh dan diharapkan dapat melindungi kepentingan nasional, termasuk stabilitas politik dan pertumbuhan ekonomi,” tutur Surung.

Banyak kasus kejahatan dunia maya menargetkan pada aplikasi, karena banyak pengguna aplikasi yang menggunakan kembali kredensial yang sama di akun pribadi dan bisnis mereka.

Saat penyerang meretas aplikasi yang dimiliki konsumen dan mengambil kredensial, mereka dapat meluncurkan serangan untuk mengambil alih akun (ATO) atau mencuri data pribadi penting.

Para penjahat dunia maya ini menggunakan otomasi, alat, botnet, dan data kredensial untuk mendapatkan data pribadi yang sensitif. Selain itu, mereka mengambil keuntungan dari penjualan data di web gelap, yang mengarah ke jenis serangan lain ke aplikasi.

Baca Juga:
Ancaman Serangan Siber Dibiayai Negara Melonjak

F5, multi-cloud application security dan delivery company, menyimpulkan bahwa data kredensial adalah ancaman keamanan utama. Kesimpulan itu keluar dalam penelitian yang dilakukan oleh F5 Labs. “Sekitar 3 miliar data kredensial dicuri dalam setahun,” ungkap Surung Sinamo mengutip dari penelitian tersebut.

Surung kemudian melanjutkan bahwa pelanggaran yang memanfaatkan kredensial terkompromi milik pengguna dapat berdampak signifikan pada pengguna aplikasi pemerintah dan perusahaan, tergantung dari jenis akun yang diserang.

Jenis akun yang diserang dapat bervariasi, mulai dari rekening bank, ID asuransi kesehatan, hingga aplikasi perusahaan atau pemerintah.

Untuk memastikan bahwa aplikasi seluler mereka sudah diamankan dengan baik dari potensi ancaman, mode pertahanan siber yang dapat diandalkan oleh pemerintah dan perusahaan antara lain Advanced Web Application Firewall (AWAF) dan SSL Orchestrator (SSLO).

- Advertisement -

Latest News

Related Stories