Jakarta – Modus penipuan baru memanfaatkan kecerdasan buatan kini menyasar pengguna TikTok. Selebriti papan atas Hollywood seperti Taylor Swift dan Rihanna dipalsukan melalui video deepfake untuk menjebak korban.
Laporan terbaru dari Copyleaks mengungkapkan peningkatan signifikan video penipuan di TikTok. Video tersebut menampilkan selebriti palsu yang mendorong pengguna mendaftar program reward bodong.
Penipuan ini menggunakan rekaman karpet merah yang dimanipulasi dengan AI. Taylor Swift misalnya, muncul dalam video malam hari yang mempromosikan fitur “TikTok Pay” fiktif.
Rihanna juga tak luput dari sasaran. Ia dipalsukan dalam video yang menawarkan program views-for-rewards palsu.
Kualitas video deepfake ini sebenarnya masih kasar. Pergerakan wajah terlihat tidak wajar dan audio tidak sinkron dengan gerakan bibir.
Meski begitu, para pelaku kejahatan siber tetap nekat menggunakannya. Mereka menambahkan filter bertekstur untuk mengelabui sistem deteksi AI milik TikTok.
Pengguna yang tertipu akan diklik tautan dalam video tersebut. Mereka kemudian diarahkan ke situs pihak ketiga yang meminta data pribadi.
Data yang diminta berupa informasi identitas pribadi yang sensitif. Informasi ini bisa disalahgunakan untuk kejahatan lebih lanjut.
Fenomena ini bukanlah kasus pertama. Sebelumnya, deepfake Elon Musk juga digunakan untuk penipuan investasi kripto.
Copyleaks melaporkan peningkatan penipuan deepfake di berbagai platform media sosial. Beberapa di antaranya bahkan bersifat seksual dan nonkonsensual terhadap selebriti.
Meta, perusahaan induk Facebook, juga menghadapi masalah serupa. Mereka digugat secara class action oleh Consumer Federation of America.
Gugatan itu menuduh Meta meraup keuntungan dari iklan penipuan di platformnya. Kasus ini menunjukkan betapa meluasnya masalah deepfake di dunia digital.
Sementara itu, industri hiburan Hollywood belum memiliki solusi komprehensif. Mereka masih berjuang melawan penyebaran deepfake nonkonsensual yang merugikan.
Taylor Swift baru-baru ini dilaporkan mengajukan merek dagang untuk suara dan kemiripannya. Langkah ini diambil di tengah maraknya deepfake dan proyek warisan anumerta.
Selebriti lain juga melakukan hal serupa untuk melindungi identitas mereka. Ini menjadi tren baru di kalangan publik figur.
Baca Juga:
Pengguna TikTok diimbau untuk selalu waspada terhadap konten mencurigakan. Jangan pernah mengklik tautan dari video yang tidak jelas sumbernya.
Kehadiran AI memang membawa kemajuan teknologi yang luar biasa. Namun di sisi lain, teknologi ini juga membuka celah bagi kejahatan siber baru.
Penting bagi platform media sosial untuk meningkatkan sistem deteksi mereka. Sora OpenAI menjadi salah satu contoh aplikasi AI yang bisa mengguncang industri media sosial.
Kolaborasi antara platform, pemerintah, dan pengguna sangat diperlukan. Hanya dengan begitu, penyebaran konten deepfake berbahaya bisa ditekan secara efektif.