Technologue.id, Jakarta – Pada acara Aruba Atmosphere Local Indonesia yang diselenggarakan di The Westin Jakarta, Prof. Richardus Eko Indrajit hadir sebagai pembicara tamu. Tema yang dibahas pada kesempatan tersebut adalah Transforming into Digital Enterprise in the Era of Industry 4.0.

Ada begitu banyak jenis risiko yang bisa menyebabkan suatu perusahaan mati. Salah satu  risiko terbesar dari suatu perusahaan adalah jika tidak belajar dan melakukan adaptasi terhadap perubahan. Hal ini karena segala sesuatu berubah, baik itu dunia, market, industri, kastemer, maupun kompetitor. Dahulu segala hal serba fisik, ketika Teknologi Informasi (TI) masuk, semua serba digital. Infrastruktur merupakan hal yang penting pada suatu ekosistem industri 4.0. Ekosistem tersebut mencakup mobile computing, media social, cloud computing, internet of things (IoT), machine learning, blockchain, dan lain sebagainya.

Baca juga:

NetApp: Ini 5 Trend IT di Tahun 2018

- Advertisement -

Mobile Computing adalah teknologi penginderaan secara realtime. Manajemen gadget merupakan kunci untuk memahami kebutuhan kastemer. Pada dasarnya piranti digital semacam smartphone merupakan sensor aktif yang merekam profil dan karakteristik, lokasi, aktivitas dengan smartphone, komunitas dan perangkat digital di sekeliling.

Media sosial merupakan salah satu sarana untuk mendapatkan informasi paling lengkap. Apalagi kebanyakan orang di Indonesia mau mengungkap berbagai data diri di media tersebut, termasuk foto-foto, kegiatan dan lokasi. Selain berkomunikasi, di media sosial orang juga melakukan transaksi, berkolaborasi, mengkonsumsi produk atau layanan, dan diseminasi informasi.

Baca juga:

DomestiCloud, Startup Penyedia Komputasi Awan Terbaru Bagi UKM dan Bisnis

Cloud Computing sendiri dipercepat dengan media sosial yang menghubungkan antar manusia. Saat  ini semua peralatan seperti kulkas, smart TV dan lain-lain yang memiliki WiFi pun  bisa  dihubungkan sehingga dapat dikendalikan dari mana saja. Jadi hal yang bisa dihubungkan kini tak hanya manusia, tetapi juga things atau benda-benda. Kemudian segala data yang terstruktur maupun tidak terstruktur dikumpulkan menjadi Big Data. Agar dapat memberikan value maka  data tersebut diolah menggunakan machine learning, analisa, dan kecerdasan buatan.

Segala keterbukaan informasi tersebut tentunya menimbulkan kekhawatiran mengenai security. Apalagi kini piranti untuk menyadap data telah dijual murah. Demikian juga barang yang berkaitan dengan TI, walaupun bermanfaat, tetap ada risikonya. Oleh karena itu setiap perusahaan juga harus menganggarkan dana terkait dengan security atau keamanan untuk perlindungan. Blockchain pun dipertimbangkan sebagai salah satu solusi, karena pencatatan dilakukan oleh beberapa pihak.

Baca juga:

CTI IT Infrastructure Summit 2018 Fokus Pada Blockchain

Keberadaan Industri 4.0 memungkinkan untuk memberi solusi  pada smart mall, smart hotel, smart home, smart hospital, smart school, dan lain-lain. Segala proses pun menjadi lebih lancar dan efisien. Deikian juga marketing yang terkustomisasi sehingga bisa tepat sasaran dengan target pasar yang dituju.