Technologue.id, Jakarta - Sebagai salah satu pelaku di industri ride-hailing, Grab terus memperluas dampak positif dan inklusif bagi masyarakat dari berbagai lapisan di Indonesia. Sejak mulai beroperasi pada 2014, Grab telah berkembang pesat dan kini menjangkau lebih dari 300 kota dan kabupaten di seluruh Indonesia melalui ekosistem layanan digital yang terintegrasi.
Kontribusi sektor ini terhadap perekonomian nasional pun tidak kecil. Berdasarkan studi Institut Teknologi Bandung (2023), industri ride-hailing dan pengantaran online menyumbang Rp382,62 triliun atau sekitar 2% terhadap total Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada 2022. Sementara itu, laporan Oxford Economics (2024) menyebut Grab berkontribusi sekitar 50% di industri transportasi dan pengantaran online, mencerminkan besarnya peran ekosistemnya dalam mendorong ekonomi digital nasional.
Ekosistem Grab Indonesia menunjukkan perannya sebagai pintu masuk ekonomi yang inklusif. Sekitar satu dari dua mitra pengemudi sebelumnya merupakan korban PHK atau tidak memiliki sumber pendapatan. Mayoritas mitra berusia di atas 36 tahun dengan latar belakang pendidikan SMA atau SMK.
Partisipasi perempuan juga cukup signifikan, dengan sekitar 182.500 mitra pengemudi perempuan terdaftar, banyak di antaranya merupakan ibu tunggal sekaligus tulang punggung keluarga. Selain itu, lebih dari 700 mitra penyandang disabilitas turut bergabung dalam platform ini, mempertegas komitmen Grab terhadap inklusivitas.
Data internal Grab per Desember 2025 mencatat total mitra pengemudi terdaftar mencapai 3,7 juta orang. Namun, hanya sekitar 700–800 ribu mitra atau sekitar 19–22% yang aktif menyelesaikan order dalam satu bulan tertentu. Angka ini bersifat fluktuatif dan mencerminkan karakter alami gig economy yang fleksibel.
Kondisi ini menegaskan bahwa status terdaftar tidak selalu mencerminkan tingkat produktivitas. Sebaliknya, platform memberikan akses terbuka bagi individu untuk berpartisipasi sesuai kebutuhan, waktu, dan kondisi masing-masing.
Mayoritas mitra juga menjadikan Grab sebagai sumber penghasilan tambahan. Lebih dari 80% mitra roda dua dan sekitar 67% mitra roda empat memanfaatkan platform sebagai penghasilan sampingan. Hal ini memperlihatkan bahwa ekosistem on-demand berfungsi sebagai ruang kerja adaptif yang memungkinkan fleksibilitas tinggi.
Dalam kategori mitra pengemudi roda empat, terdapat pembagian berdasarkan intensitas kerja:
- Penghasilan utama (10–11%)
Mitra dalam kategori ini memperoleh lebih dari Rp10 juta per bulan, dengan rata-rata 11 order per hari. Aktivitas mengemudi menjadi pekerjaan utama. - Penghasilan rutin (21–22%)
Berpenghasilan Rp4–10 juta per bulan dengan rata-rata 7 order per hari. Mereka bekerja secara konsisten namun tetap fleksibel. - Penghasilan tambahan (33–34%)
Mendapatkan Rp1–4 juta per bulan, biasanya bekerja 2–4 jam per hari dengan sekitar 4 order. - Penghasilan sesekali (34–35%)
Pendapatan hingga Rp1 juta per bulan, dengan aktivitas narik yang situasional, sekitar 1–2 jam per hari.
Sementara itu, pada mitra roda dua:
- Nafkah utama (1–2%)
Penghasilan di atas Rp10 juta per bulan, dengan lebih dari 28 order per hari. - Penghasilan rutin (14–15%)
Pendapatan Rp4–10 juta per bulan, rata-rata 15 order per hari. - Penghasilan tambahan (41–42%)
Pendapatan Rp1–4 juta per bulan, dengan sekitar 6 order per hari. - Penghasilan sesekali (42–43%)
Pendapatan hingga Rp1 juta per bulan, dengan aktivitas terbatas dan fleksibel.
Pola ini mempertegas bahwa sebagian besar mitra memilih fleksibilitas sebagai nilai utama dalam bekerja di ekosistem digital.
CEO Grab Indonesia, Neneng Goenadi, menegaskan bahwa fleksibilitas merupakan fondasi utama model on-demand. Mayoritas mitra menjadikan platform sebagai penghasilan sampingan, sementara hanya sebagian kecil yang mengandalkannya sebagai nafkah utama.
Menurutnya, tingkat produktivitas mitra bersifat dinamis dan dipengaruhi oleh berbagai faktor kehidupan. Oleh karena itu, Grab menerapkan pendekatan berbasis kinerja dalam memberikan dukungan dan apresiasi kepada mitra.
“Kebijakan berbasis kinerja bukanlah bentuk pembatasan, melainkan upaya untuk memastikan sistem yang adil, terutama bagi mereka yang berkontribusi lebih dalam ekosistem,” ujarnya.
Sejalan dengan komitmen “Grab untuk Indonesia” yang diperkenalkan pada 13 Januari 2026, khususnya dalam pilar “Memberi Makna”, Grab terus menghadirkan berbagai inisiatif yang tidak hanya relevan secara ekonomi, tetapi juga bermakna secara personal bagi mitra.
Berbagai bentuk apresiasi, termasuk program khusus pada momen Ramadan, dirancang untuk mendukung mitra yang menunjukkan konsistensi dan komitmen tinggi dalam ekosistem.