Bayangkan sebuah perusahaan mobil mewah listrik yang terus merugi miliaran dolar, namun tetap bisa beroperasi karena ada "dana talangan" dari induknya yang tak pernah habis. Itulah realitas Polestar saat ini. Di tengah gejolak industri EV global, brand premium asal Swedia ini seperti berjalan di atas tali, dengan Geely Holding sebagai jaring pengamannya. Baru-baru ini, Volvo Cars—yang juga di bawah naungan Geely—mengonversi utang senilai US$274 juta menjadi ekuitas, sebuah langkah yang memperpanjang napas Polestar, namun sekaligus mengukuhkan ketergantungannya.

Latar belakangnya adalah lanskap bisnis yang brutal. Polestar, seperti banyak pemain EV murni lainnya, melakukan ekspansi agresif saat permintaan tinggi, menghabiskan modal besar tanpa mencapai volume yang menguntungkan. Dalam sembilan bulan pertama 2025 saja, kerugiannya mencapai US$1,56 miliar, hampir dua kali lipat dari periode sama tahun sebelumnya. Di balik desain futuristik dan performa mengagumkan, pertanyaan mendasarnya tetap: bisakah Polestar mencapai skala yang membuatnya mandiri, atau akan selamanya menjadi "anak emas" yang mahal bagi Geely?

Transaksi konversi utang ke ekuitas ini bukan sekadar manuver akuntansi. Ini adalah bagian dari strategi besar Geely untuk mengonsolidasi dan merasionalisasi operasi merek-merek globalnya, terutama di pasar premium Barat. Langkah ini membawa kita pada analisis mendalam tentang masa depan Polestar dan posisinya dalam rumah besar Geely.

Konversi Utang dan Perubahan Kepemilikan: Memperkuat atau Hanya Menunda?

Volvo Cars secara resmi setuju untuk mengonversi sekitar US$274 juta dari pinjaman pemegang sahamnya yang masih beredar ke Polestar menjadi ekuitas. Konversi tambahan sekitar US$65 juta diperkirakan akan menyusul pada kuartal kedua 2026. Transaksi ini meningkatkan kepemilikan Volvo di Polestar menjadi sekitar 19,9%, naik dari sekitar 10% sebelumnya. Namun, peta kepemilikan ini masih akan berubah.

Sebuah swap utang-ekuitas terpisah senilai US$300 juta oleh Geely Sweden Holdings, yang pertama kali diumumkan pada Desember 2025, belum selesai. Setelah transaksi itu rampung, kepemilikan Volvo akan terdilusi. Inilah alasan mengapa konversi kedua dirancang untuk mempertahankan posisi Volvo. Sementara itu, jatuh tempo sisa pinjaman pemegang saham Polestar—yang berjumlah sekitar US$660 juta—telah diperpanjang hingga Desember 2031.

Pada permukaannya, langkah ini memperkuat neraca Polestar dan memperpanjang profil jatuh tempo utangnya. Namun, di balik angka-angka itu, Polestar tetap sepenuhnya bergantung pada talangan hidup dari Geely dan Volvo. Tidak ada tanda-tanda segera bahwa ketergantungan ini akan berubah dalam waktu dekat. Konversi utang memperpanjang "landasan pacu" keuangan, tetapi tidak menjawab pertanyaan mendasar tentang keberlanjutan bisnisnya sendiri.

Strategi Produksi: Konsolidasi ke AS untuk Hindari Tarif dan Efisiensi

Salah satu dampak konkret dari restrukturisasi ini adalah konsolidasi seluruh produksi Polestar 3 di pabrik Volvo di Charleston, South Carolina, AS. Menurut juru bicara yang dikutip Reuters, output model tersebut dari China akan dihentikan sebagai bagian dari pengaturan ini. Langkah ini memiliki keuntungan strategis yang jelas.

Pertama, mengonsolidasikan perakitan SUV listrik di Charleston menghilangkan biaya dan kompleksitas menjalankan dua lini produksi untuk satu model. Kedua, dan yang lebih krusial, ini menghindari tarif 100% yang tidak terbendung atas impor AS untuk kendaraan listrik buatan China. Dengan memproduksi secara lokal di AS, Polestar dan Geely melindungi diri dari eksposur risiko geopolitik dan ekonomi yang datang dengan mengirimkan kendaraan dari China ke AS.

Langkah ini selaras dengan pola lebih luas Geely yang memposisikan ulang produk yang dijual di pasar Barat, menjauh dari manufaktur China sedapat mungkin. Ini adalah respons pragmatis terhadap realitas perdagangan global saat ini.

Peran Volvo dan Integrasi Dalam Rumah Geely

Keputusan ini juga menyoroti peran sentral Volvo Cars dalam ekosistem Geely. Di bawah kepemimpinan kembali Håkan Samuelsson—yang kembali menjabat CEO untuk periode dua tahun tetap setelah kepergian Jim Rowan pada Maret 2025—Volvo bergerak cepat di berbagai front. Samuelsson diberi tugas untuk memperdalam integrasi di seluruh rumah merek Geely yang luas.

Selain konsolidasi produksi Polestar 3, Samuelsson juga mengawasi persiapan produksi seri Polestar 7, SUV kompak, di pabrik Volvo yang akan datang di Slovakia. Pada 30 Maret, Volvo juga mengumumkan akan menjadi distributor eksklusif Eropa untuk Lynk & Co, merek Geely lainnya. Peran Volvo sebagai "jangkar" mencerminkan posisi khusus yang ditempati baik Volvo maupun Polestar dalam grup yang portofolionya membentang dari mobil komuter China beranggaran terbatas hingga supercar Lotus.

Dua merek Swedia ini memberikan Geely pijakan paling kredibel di segmen premium Eropa dan Amerika Utara. Platform bersama mereka—Polestar 3 dan Volvo EX90 sama-sama dibangun di atas arsitektur SPA2—berarti konsolidasi produksi mereka juga memusatkan aset manufaktur yang paling bernilai strategis bagi grup dalam satu fasilitas AS. Ini adalah langkah restrukturisasi strategis yang mendalam.

Masa Depan Polestar: Jalan Panjang Menuju Profitabilitas

Jadi, apa arti semua ini bagi masa depan Polestar? Pengaturan ini memperpanjang runway keuangan tanpa menyelesaikan pertanyaan mendasar: apakah Polestar dapat mencapai skala di mana ia dapat menopang dirinya sendiri? Seperti kebanyakan merek yang berfokus pada EV yang berkembang agresif selama periode permintaan kuat, Polestar telah mengonsumsi modal substansial tanpa mencapai volume yang menguntungkan.

Ketergantungan pada Geely dan Volvo masih mutlak. Konversi utang dan perpanjangan jatuh tempo adalah oksigen yang dibutuhkan untuk terus bernapas, tetapi bukan obat untuk penyakit struktural. Tantangan Polestar adalah mencapai volume penjualan yang cukup tinggi sehingga biaya per unit turun dan margin membaik—sebuah pencapaian yang masih sulit diraih di pasar EV yang semakin kompetitif dan jenuh.

Langkah konsolidasi produksi ke AS adalah langkah logis untuk mengurangi biaya dan menghindari tarif, yang dapat membantu margin. Namun, ini harus diimbangi dengan peningkatan permintaan yang nyata. Apakah Polestar 3, dan model-model mendatang seperti Polestar 7, memiliki daya tarik yang cukup untuk bersaing dengan Tesla, Rivian, dan pemain mapan lainnya? Hanya waktu yang akan menjawab.

Pada akhirnya, kesabaran dan kedalaman kantong Geely akan menjadi penentu utama. Selama Geely melihat nilai strategis dalam memiliki merek premium global seperti Polestar dan bersedia menanggung kerugian untuk sementara, Polestar akan terus berjalan. Namun, kalkulus itu bisa berubah jika jalan menuju profitabilitas tampak terlalu panjang atau tidak pasti. Untuk saat ini, Polestar bertahan hidup, tetapi napasnya masih disuplai dari "tabung oksigen" milik Geely.