Technologue.id, Jakarta – Ekonomi digital menempatkan operator selular pada posisi yang strategis. Pembangunan infrastruktur, khususnya BTS 4G yang mulai menjangkau semua wilayah Indonesia, tak hanya memperkuat kualitas jaringan, namun juga mendorong tumbuhnya layanan-layanan baru yang berpotensi meningkatkan revenue operator.

Baca Juga:
Pentingnya 5G untuk Revolusi Industri

Berdasarkan laporan DBS Report, Indonesia mencatat pertumbuhan tertinggi dalam data revenue di ASEAN. DBS juga mencatat bahwa meskipun konsumsi data cenderung naik, namun dibandingkan negara Asia lain masih tertinggal.

“Jadi reborn itu memang benar terjadi dari segi in term of total revenue teman-teman operator. Ada shifting dari legacy ke data yang belum tuntas memang benar, jadi penurunan legacy dari voice dan SMS yang pindah ke data belum sepenuhnya recover. Artinya pendapatan dari data belum sepenuhnya bisa menggantikan apa yang dinikmati ketika pendapatan diperoleh di sisi legacy┬áketika masih mengandalkan pendapatan dari sisi voice dan SMS,” jelas Ismail, Direktur Jenderal Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika (Dirjen SDPPI) Kemenenterian Komunikasi dan Informatika, saat keynote speech di Selular Telco Outlook 2020, di Hotel Aston, Jakarta, Senin (2/12/2019)..

Namun Ia melihat ada perbaikan dari sisi anggaran di mana jumlah Capex (capital expenditur) untuk layanan data telah menyusut, sehingga pendapatan data ini bakal memberikan kontribusi signifikan.

Sementara itu, GSMA Intelligence mengungkap bahwa koneksi seluler di Indonesia mulai didominasi oleh 4G (44%) pada 2018 dan presentasenya akan meningkat hingga 79% pada 2025.

“4G mendominasi network global termasuk Indonesia. Artinya BTS 4G ini ready to 5G. Untuk yang non standalone, lebih dari 70 persen (4G) pada tahun 2025 akan siap 5G. Bahkan di Shanghai China, tidak perlu effort banyak di BTS 4G sudah bisa meningkatkan 3-4 kali lipat dari speed biasa. Dengan menambahkan millimeter-wave band sudah bisa mencover, karena sebenarnya baterai dan power tetap sama. Ini akan menjadi isu menarik kalau millimeter-wave band sudah dimiliki nanti oleh cellular operator,” ungkapnya.

Untuk mencover 5G, hal ini tidak terlepas dari infrastuktur. Pasalnya, infrastuktur optical fiber di awal ini akan menentukan kekuatan atau reliability yang dibangun oleh operator. Ismail menekankan, tidak ada 5G tanpa kehadiran optical fiber. Namun Ismail tak menampik bahwa Indonesia terlambat dari sisi pembangunan fiber optik diseluruh lini, mulai dari backbone sampai backhaul. Padahal kualitas 5G akan berpengaruh di sisi network operator.

“Jangan lagi punya 4G tapi rasa 3G, atau 5G tapi sebatas 4G atau sampai 4.5/4.9G yang dinikmati masyarakat,” ucap Ismail.

Baca Juga:
Telkom Gandeng Huawei Bentuk Proyek Riset dan Inovasi 5G

Lebih lanjut, tantangan yang dihadapi oleh operator adalah pembangunan infrastruktur ke remote area. Visi membangun Indonesia sentris kini tidak lagi hanya konsentrasi di kota-kota besar saja namun juga hingga pelosok. Kendati tak dipungkiri, bahwa cost penggelaran jauh lebih mahal 18 persen untuk pedesaan dan 35 persen untuk daerah terpencil dibanding penggelaran di perkotaan.

Oleh karena itu, program USO juga diibaratkan menjadi forerider bagi telco operator guna mengcover pengeluaran anggaran yang besar. Dalam kaitan project ini, operator nasional diharap dapat memanfaatkan sebaik-baiknya.

“Masa depan kita harus bisa menyelesaikan isu ini secepat-cepatnya. Ini prasyarat bagi operator untuk naik kelas atau menjadi worldwide operator,” tandasnya.