Technologue.id, Jakarta – Seperti yang mungkin sudah Anda ketahui, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI yang baru dilantik, Muhadjir Effendy, berencana untuk menerapkan program full-day school. Inisiatif yang ditujukan untuk jenjang SD dan SMP itu bakal ‘menahan’ siswa di sekolah seharian guna melakukan beragam aktivitas positif, contohnya ekstrakurikuler.

Namun, gambaran rencana Mendikbud itu ternyata 180 derajat berkebalikan dengan prediksi sekolah 50 tahun lagi oleh Jonathan Rochelle. Pria yang menduduki jabatan sebagai Head of Product Management for Google Apps for Education tersebut meyakini pada 2066 mendatang, sekolah akan lebih berwujud sebagai wadah kolaboratif.

Mengutip BusinessInsider (11/8/16), kemajuan teknologi setengah abad lagi diprediksi sudah mampu memaksimalkan virtual dan augmented reality. Katanya, alih-alih terlibat dalam kegiatan belajar-mengajar dengan bertatap muka langsung di dalam sebuah ruangan, siswa dan guru bisa berada di mana pun karena interaksi dalam kelas akan dimaksimalkan via platform online.

Selain itu, machine learning juga akan ambil peran dalam mendidik para murid. Misalnya, guru bakal bisa membuat tes online yang ‘cukup pintar’ karena bisa menyesuaikan soal tes sesuai kemampuan dan ketertarikan tiap siswa. Ke depannya, machine learning pun dapat dimanfaatkan untuk menuntun siswa-siswi ke karir yang mereka inginkan.

Menarik tidak menurut Anda konsep yang diajukan Jonathan ini? Ada prediksi kapan sistem serupa bisa diberlakukan di Indonesia?

 

Baca juga:

ZTE: OPERATOR TELEKOMUNIKASI DI INDONESIA BUTUH LAYANAN BERBASIS IOT DAN NFV

APLIKASI JENIUS BIKIN PATUNGAN JAJAN JADI LEBIH GAMPANG

MIMPI BESAR DELIVEREE DI PASAR LOGISTIK INDONESIA