Technologue.id, Jakarta – Seorang remaja 18 tahun di Bantul, Yogyakarta, dikabarkan tersambar petir saat tengah bermain ponsel pada Kamis (20/2/2020). Remaja bernama Muhammad Farhan Alhalwani kini dirawat di RSUD Panembahan Senopati, Bantul.

Peristiwa itu terjadi saat hujan lebat mengguyur wilayah tersebut. Korban yang berada di rumah bermain ponsel sambil menggunakan headset. Tak lama berselang korban ditemukan oleh sang Nenek sudah dalam kondisi hangus di beberapa bagian tubuhnya.

Baca Juga:
Bisa Tanya-tanya Dokter di Aplikasi TikTok

Namun, apakah benar kegiatan bermain ponsel saat hujan mengguyur beresiko?

Dikutip dari AMTA pada Jumat (21/2/2020), Ponsel adalah perangkat berdaya rendah dan tidak memiliki karakteristik yang akan membuatnya beresiko tersambar petir. Jumlah logam yang terkandung dalam ponsel tidak cukup untuk meningkatkan resiko sambaran petir.

Para ahli juga mengatakan, seseorang yang berada di luar ruangan meningkatkan risiko terkena jika mereka berada di tempat tinggi, di ruang terbuka, di dekat air atau di dekat struktur logam. Faktor-faktor inilah yang meningkatkan resiko tersebut dibanding penggunaan ponsel.

Baca Juga:
Industri Teknologi Mulai ‘Terinfeksi’ Virus Corona?

Kekhawatiran akan risiko ponsel yang dapat menarik sambaran petir sebenarnya muncul beberapa tahun yang lalu di Internet. Hal tersebut hingga kini menjadi mitos yang dipercaya oleh sebagian besar masyarakat.

Para ahli juga telah menyadari informasi yang salah mengenai mitos itu dengan mengungkap fakta-fakta sebenarnya terkait sambaran petir. Salah satu ahli yang menguak fakta tersebut adalah Dr Mary Ann Cooper dari Departemen Kedokteran Darurat dan Bioteknologi, University of Illinois Chicago, dalam makalahnya tentang fakta-fakta tersebut.