Technologue.id, Jakarta – Jala Lintas Media (JLM) Group menyiapkan pengembangan jaringan kabel laut baru untuk memperkuat konektivitas digital di wilayah Indonesia bagian timur. Proyek yang diberi nama BTI (Barat Timur Indonesia) ini dirancang menjadi jalur alternatif yang menghubungkan wilayah Batam hingga Manado.

General Manager Network Service Solution JLM, Radumalem Tarigan, mengatakan BTI akan menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk memperluas jaringan konektivitas nasional sekaligus membuka alternatif gateway Indonesia menuju jaringan regional dan internasional.

Menurutnya, Manado diproyeksikan menjadi salah satu titik penting dalam jaringan tersebut karena posisinya dapat mendukung akses Indonesia menuju jaringan regional dan internasional.

unnamed 6 1
Radumalem Tarigan, General Manager Network Service Solution JLM

BTI dirancang sebagai sistem kabel bawah laut berteknologi repeatered, yakni menggunakan perangkat penguat sinyal yang ditempatkan di sepanjang kabel. Teknologi ini digunakan agar sinyal tetap kuat ketika data dikirimkan melalui kabel bawah laut dalam jarak yang sangat jauh.

Total panjang kabel BTI diproyeksikan mencapai sekitar 4.486 kilometer dengan kapasitas hingga 24 terabit per detik (Tbps).

Selain jalur utama, jaringan ini juga dirancang memiliki sejumlah cabang yang menghubungkan jaringan ke beberapa wilayah strategis, yakni Gresik, Makassar, dan Balikpapan.

Pengembangan BTI menjadi langkah lanjutan JLM setelah sebelumnya menyiapkan jaringan INSIGHT (Indonesia-Singapore Gateway High Speed Transmission) yang menghubungkan Jakarta, Batam, dan Singapura.

Jika INSIGHT diarahkan untuk memperkuat akses Indonesia menuju Singapura sebagai salah satu hub internasional di ASEAN, BTI disiapkan untuk memperkuat konektivitas ke wilayah Indonesia bagian timur.

Namun, Radu menegaskan bahwa jalur menuju Manado masih berada dalam tahap persiapan dan belum sepenuhnya beroperasi.

Proses pembangunan kabel menuju wilayah timur Indonesia memiliki tantangan tersendiri. Salah satunya adalah kondisi geografis dasar laut yang kompleks.

"Jadi, karena arah timur ini unik. Di bawahnya itu banyak gunung api," jelasnya.

Sebelum kabel dibangun dan digelar, JLM bersama konsorsium perlu melakukan marine survey atau survei kondisi dasar laut.

Survei tersebut menjadi tahap penting untuk menentukan jalur kabel yang aman. Pasalnya, kawasan perairan Indonesia bagian timur memiliki banyak gunung api bawah laut, palung laut, serta kondisi geografis dasar laut yang tidak sederhana.

Radu mengatakan proses marine survey saat ini masih berlangsung dan membutuhkan waktu cukup panjang. "Marine survey-nya itu bisa dibilang lumayan lama," katanya.

Lamanya proses survei juga berkaitan dengan kebutuhan untuk menghindari berbagai kondisi dasar laut yang berpotensi menyulitkan pembangunan maupun pengoperasian kabel.

Salah satu wilayah yang menjadi perhatian adalah kawasan Laut Banda, yang memiliki banyak palung laut.

"Mostly karena untuk menghindari dan banyak sekali palung-palung di sana. Ada palung, ada di Laut Banda, kita selalu harap banyak survei," ujar Radu.