Technologue.id, Jakarta – Lembaga Demografi Falkutas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LD FEB UI), menilai jika para mitra Gojek memiliki manfaat di luar keuntungan ekonomi yang mereka peroleh.

Hal ini dibuktikan dengan penelitian yang dilakukan oleh LD FEB UI bertajuk “Makna Kerja, Tingkat Kepuasan, dan Well-Being Go-jek Indonesia” pada 2019.

Baca Juga:
Gojek Uji Coba Penggunaan Motor Listrik di Indonesia

Turro S. Wongkaren, Ph.D, Kepala Lembaga Demografi FEB UI mengungkapkan penelitian kualitatif ini merupakan lanjutan dari penelitian LD FEB UI sebelumnya yang bersifat
kuantitatif mengenai dampak ekonomi mitra Go-Jek kepada perekonomian Indonesia.

Pada riset sebelumnya, LD menghitung bahwa kontribusi Go-ek terhadap perekonomian Indonesia berada di kisaran Rp 44,2-55 triliun jika menggunakan asumsi 100 persen mitra aktif. Namun, hal yang perlu lebih lanjut ditelaah adalah apakah kontribusi ekonomi yang besar ini juga diikuti dengan kepuasan dan kebahagiaan mitranya

“Penelitian mengenai well-being pekerja di industri konvensional sudah banyak dilakukan. Namun, penelitian terhadap anggota ekosistem ekonomi digital masih jarang. Ini perlu dilakukan guna memahami lebih dalam bagaimana ekonomi digital bisa membantu individu tidak hanya dari sisi finansial tetapi juga manfaat non-finansial yang berguna bagi pengembangan diri,” ujar Turro.

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang melibatkan sebanyak 201 orang mitra GoJek (109 laki-laki dan 92 perempuan) dari layanan Go-Ride (pengemudi roda dua); Go-Car (pengemudi roda empat); Go-Food (merchant); Go-Massage (talent jasa pijat); Go-Clean (talent jasa kebersihan); dan Go-Auto (talent jasa otomotif), dari sembilan kota yaitu Jabodetabek, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar, Medan, Balikpapan, Makassar, dan Palembang. Mitra yang menjadi responden penelitian adalah mereka yang aktif di GoJek selama enam bulan terakhir.

Baca Juga:
Transaksi Gojek Meroket 1000%, Apa Rahasianya?

Peneliti LD FEB UI Dr. Bagus Takwin, M.Hum, memaparkan mitra memaknai pekerjaan mereka lebih dari sekadar menghasilkan uang untuk memenuhi kepentingan sendiri.

Berdasar pengukuran kepuasan hidup mitra yang menggunakan instrumen The Satisfaction with Life Scale (SWL) dari Pavot dan Diener (2013), skor rata-rata kebahagian mitra yang ditemukan pada penelitian ini adalah 24,3 dari skala maksimal 35. Artinya, secara umum mitra Go-Jek tergolong “cukup puas dengan hidupnya yang menjadi lebih baik dan merasa bahagia.”

Dia menyatakan, keadaan mitra Go-Jek yang bahagia bisa membuat mereka tetap semangat memperbaiki hidup sehingga bisa naik tangga kelas ekonomi dan sosial.

“Kebahagiaan (well-being) menjadi optimal dengan adanya rancangan kemitraan Go-Jek, yang memungkinkan mitra memiliki kebebasan terhadap target dan waktu kerja mereka,” ujar Bagus.