Technologue.id, Jakarta – Persaingan industri kecerdasan buatan (AI) yang semakin ketat turut mendorong permintaan terhadap perangkat keras pendukung, termasuk memori berkecepatan tinggi. Kondisi ini membuat produsen cip seperti Samsung melihat peluang besar pada produksi High Bandwidth Memory (HBM) yang banyak digunakan untuk mendukung sistem AI.
Samsung dikabarkan mulai mengubah strategi produksinya dengan mengalihkan kapasitas manufaktur dari DRAM konvensional ke HBM. Langkah tersebut dinilai sebagai upaya perusahaan untuk memanfaatkan permintaan terhadap memori yang memiliki nilai jual lebih tinggi di tengah ledakan kebutuhan infrastruktur AI.
Menurut sumber internal, Samsung tengah berdiskusi dengan sejumlah mitra untuk mempercepat penyelesaian lini produksi DDR5. Perusahaan juga disebut berencana berinvestasi pada fasilitas produksi melalui mitra atau sistem alih daya.
Dengan strategi tersebut, kapasitas produksi internal Samsung yang sebelumnya digunakan untuk membuat DRAM dapat dibebaskan dan kemudian dialihkan untuk memproduksi cip HBM.
HBM sendiri menjadi salah satu komponen penting dalam sistem komputasi AI karena menawarkan bandwidth yang jauh lebih tinggi dibandingkan memori konvensional. Memori ini banyak digunakan bersama akselerator AI untuk menangani pemrosesan data dalam jumlah besar.
Sumber tersebut menyebut Samsung telah melakukan pembicaraan dengan sejumlah perusahaan untuk mendukung strategi produksi barunya. Beberapa di antaranya adalah Dreamtech di India, Hanyang Digitech di Vietnam, dan SFA Semicon di Filipina.
Samsung disebut mendorong para mitranya agar dapat menyelesaikan lini produksi DDR5 lebih cepat dari jadwal. Jika kapasitas produksi melalui mitra semakin besar, Samsung memiliki ruang lebih luas untuk mengalokasikan fasilitas internalnya ke produksi HBM.
Strategi ini sekaligus menunjukkan semakin pentingnya HBM bagi industri semikonduktor, terutama ketika perusahaan teknologi di seluruh dunia terus meningkatkan investasi untuk membangun pusat data dan infrastruktur AI.